EXOtic’s Fiction “My Mean Girl” – Part 1

EXOtic’s Fiction

Exo1stwonderplanet.wordpress.com

“My Mean Girl”

Title : My Mean Girl –  Part 1

Author: Han Rae Na

Length : Series

Cast:

  • Oh Sehun (EXO)
  • Anthea Ferrel  (You)

Disclaim : SEMUA FANFICTION YANG DIPOST exo1stwonderplanet.wordpress.com adalah milik author yang menulis. DO NOT POST ANYWHERE WITHOUT ANY PERMISSION. And after read, please give comment^^ Every words from EXOWPers is A GOLD! *bow*

 

**

Aku mengenalnya nyaris seumur hidupku. Aku pertama kali melihatnya ketika berumur tujuh tahun. Rumah kami berdekatan dan keluarga kami juga berteman. Kami bersekolah di tempat yang sama dan nyaris melakukan segala aktifitas bersama-sama. Temannya adalah temanku. Hal yang dibencinya juga adalah hal yang kubenci. Dan aku nyaris lebih mengenalnya daripada ia mengenal dirinya sendiri.

Dia bukan orang yang baik. Jika dunia ini seperti drama yang dipentaskan di atas panggung, maka dia akan menjadi Sang Antagonis. Ibaratnya jika di drama Cinderella, maka dia yang akan menjadi kedua saudara tiri yang kejam. Jika di The Little Mermaid, maka dia yang akan menjadi Ursula. Tapi itu sama sekali tidak penting. Bagaimana mungkin kau bisa memikirkan hal kecil seperti itu di saat kau melihat matanya yang begitu cantik?

Dia memiliki semua yang diimpikan dari seorang gadis. Kecantikan, sikap anggun, pintar, harta kekayaan, bahkan sampai binatang peliharaan yang lucu. Ia memiliki semuanya, kecuali satu. Keluarga.

Ayah dan ibunya bercerai saat usianya dua belas tahun dan ia memutuskan untuk pindah dan tinggal bersama ayahnya di Amerika. Dia masih sering menghubungiku tentu saja. Dia juga akan pulang setahun sekali untuk mengunjungi ibu dan juga ayah tirinya. Tapi, semuanya tidak sama. Hidupku selama enam tahun terakhir ini tidak sama tanpa dirinya.

***

Aku pertama kali bertemu dengannya di pesta ulang tahunku yang ke-tujuh. Keluargaku berteman dengan keluarganya yang secara tidak langsung membuat kami juga berteman. Kita bertemu dimana saja, dan kapan saja mengingat rumah kita yang begitu dekat dan sekolah kita yang sama.

Di depannya, aku sama sekali tidak perlu berpura-pura. Sepertinya ia sama sekali tidak masalah dengan sifatku ini. Saat guru di kelas memarahiku karena membuat salah satu anak menangis, ia malah tertawa dan mengacungkan jempolnya untukku. Saat beberapa anak perempuan lain membicarakan diriku di belakang, ia dengan tegas membelaku dengan membentak mereka.

Tapi, aku tidak sejahat itu. Sungguh. Teman-temanku saja yang terlalu cengeng dan pelapor.

Dia membuatku tidak pernah khawatir untuk tidak punya teman. Ia selalu berada di sampingku. Bahkan di saat buruk sekalipun. Ia bahkan beberapa kali rela membohongi orang tuaku demi menyelamatkanku dari omelan tanpa henti. Dialah yang terbaik. Setidaknya selama dua belas tahun aku berpikir seperti itu. Atau mungkin sampai sekarang? Entahlah.

***

Author POV

Suasana pagi yang begitu hangat karena matahari yang cerah membuat seorang gadis menggerutu kesal sambil memaksa membuka matanya yang sama sekali tidak bisa diajak bekerja sama. Matahari yang masuk melalui jendela kamarnya di salah satu apartemen di kawasan Gangnam, membuat matanya menyipit. Ia selalu saja lupa menutup tirai jendela di malam hari walaupun sudah ratusan kali ia mengingatkan dirinya sendiri. Dengan malas ia menendang selimutnya asal dan tanpa merasa terganggu dengan rambutnya yang berantakan karena bangun tidur, ia berjalan keluar kamar masih dengan mata setengah tertutup. Langkah kakinya terseok-seok menghampiri lemari pendingin. Ia mengambil sebotol susu dan tanpa mau repot mengambil gelas, ia langsung meminumnya dari sana.

“Ini sudah jam 10. Kau mau jadi babi, hah?”

Gadis itu sama sekali tidak kaget mendengar suara seorang pria di apartemennya. Pria itu memang selalu seenaknya. Percuma saja ia melarangnya datang atau paling tidak menyuruhnya untuk menunggu sampai dibukakan pintu. Kalau pria itu tidak seenaknya, tidak sabaran, dan tidak menyebalkan, bukan Oh Sehun namanya.

“Dan lagi-lagi kau tidak memberitahuku kalau kau kembali ke Korea.” Lanjut pria itu menggerutu.

Gadis yang bernama Anthea itu hanya mengangkat bahunya santai lalu ikut bergabung bersama Sehun di sofa berwarna abu-abu. “Lihat, kan? Kau tetap akan tahu, walaupun aku tidak membuka mulut. Kali ini siapa yang kau suap? Dad?” Ayahnya memang dekat sekali sama pria di sampingnya itu. Jadi tidak heran jika apapun yang ia lakukan atau apapun yang terjadi padanya selama ia di Amerika, pria itu akan tetap tahu. Tidak peduli sekecil apapun masalahnya itu. Pernah sekali Anthea secara tidak sengaja teriris pisau, pria itu langsung menelponnya dengan panik dan nyaris saja berangkat ke Amerika untuk melihatnya jika gadis itu tidak meledak marah-marah.

“Oh ya. Ayahmu selalu bisa diandalkan jika itu menyangkut tentangmu. Tapi, tetap saja!” Ucap pria itu dengan tidak terima. “Aku kan bisa menjemputmu di bandara tadi malam.”

“Ha ha. Kau pikir aku tidak tahu kalau fansmu itu semakin banyak saja?! Kau mau membuatku terkenal tiba-tiba?”

“Kau tidak perlu membuat skandal denganku untuk jadi terkenal.”

Anthea mengingat dirinya yang memang berprofesi sebagai model jika sedang berada di Korea. Hal itu sebenarnya sama sekali tidak disengaja. Waktu itu ia tidak sengaja bertemu dengan salah satu direktur dari perusahaan entertainment terkenal dan langsung menawarinya pekerjaan. Tidak langsung menjadi model utama. Tapi, lama kelamaan perusahaan itu mulai mempercayainya dan warga Korea juga sudah mengenal gadis bernama Anthea. Walaupun memang tidak seterkenal pria di sampingnya itu.

“Karena kau tidak menjemputku semalam, bagaimana kalau hari ini kau mengantarku ke lokasi syuting?” Ujar Anthea dengan nada manis dibuat-buat.

“Aku sibuk.”

“Yaaaaak! Sehunnieeee!!! Di luar panas sekali, dan kau tahu aku tidak punya kendaraan di Seoul.” Memang benar. Untuk apa kau membeli mobil yang hanya akan kau pakai sebulan dalam satu tahun? Lagipula ia mempunyai supir tampan yang hampir dibilang selalu bersedia mengantarnya kemanapun. “Atau bagaimana kalau aku meminjam mobilmu saja? Kau kan biasanya naik van bersama membermu itu.”

Sehun menggeleng dan menunjukkan ekspresi yang dianggap Anthea sangat menyebalkan. Setelah merasa berhasil, Sehun tersenyum miring kemudian menatap Anthea, “Jam berapa kau akan syuting?”

Anthea mengangkat jari tengah dan telunjuknya.

“Sampai malam?”

Anthea mengangguk. “Kenapa? Kau mau menjemputku juga?”

“Tsk! Aku hanya bertanya, Anthea sayang.”

Anthea mengumpat kesal, lalu saat melihat kunci mobil milik Sehun di atas meja, bibir gadis itu perlahan-lahan tertarik ke atas. Dalam satu gerakan cepat ia meraih kunci tersebut, bahkan sebelum Sehun bisa menyadari apa yang sedang dilakukannya. Anthea berlari ke kamarnya, melempar kunci itu asal lalu mengunci kamarnya kembali dari luar.

Alih-alih merasa kesal, Sehun hanya tertawa melihat tingkah gadis itu. “Kau tidak tahu kalau aku bisa saja melaporkanmu ke polisi?”

Anthea kembali menjatuhkan badannya di samping Sehun. “Kau tidak akan melakukan itu kalau tidak mau lehermu putus di tangan Dad.” Balas Anthea santai. “Sekarang apa yang kau lakukan di sini? Pulang sana!”

“Tsk! Setelah mencuri mobilku sekarang kau mengusirku begitu?” Tanya Sehun tidak percaya. “Buatkan aku sarapan, aku lapar.”

Anthea mengerutkan keningnya. “Membuat sarapan bukan tugasku. Selalu kau yang melakukannya, ingat?”

Tanpa meminta persetujuan Anthea terlebih dahulu, Sehun menarik tangan gadis itu menuju dapur yang masih sangat bersih itu. Memang ada pembantu yang selalu membersihkan apartemennya selama ia berada di Amerika. Lagipula ia sama sekali tidak berniat menggunakan tempat itu. Selalu pria itu yang menggunakannya walaupun ia sendiri tahu pria itu tidak begitu suka memasak. Tapi toh pria itu akan selalu melakukan apa yang ia mau. Di saat ia lapar dan pelayannya sudah pulang, maka ia tinggal menelpon sahabatnya itu. Kalau Sehun tidak membawa makanan yah pria itu pasti akan memasak untuknya. Beruntung sekali bukan?

“Siapa yang menyuruhmu duduk?” Tegur Sehun saat melihat Anthea sudah duduk manis di kursi tinggi di dapur.

“Lalu aku harus apa? Berdiri sementara kau memasak?”

“Sudah kubilang ‘buatkan aku sarapan’. Apa menurutmu itu berarti aku yang memasak?” Sehun mengambil satu butir telur dari dalam kulkas, minyak goreng dan juga peralatan masak lainnya. “Cepat!”

“Mwoya?!!” Protes Anthea tidak terima.

Sehun mendorong gadis itu sampai berdiri di depan kompor listrik. Ia melipat tangannya di depan dada dalam posisi yang seakan berkata ‘aku menunggu’.

“Sehun-a, kau sudah bosan hidup, hah?” Tanya Anthea dengan nada rendah. “Kau pikir karena sekarang kau berubah menjadi begitu terkenal, jadi kau bisa menyuruhku seenaknya?!”

Sehun mengalungkan tangannya di leher Anthea dengan santai. Lalu membimbing tangan gadis itu sampai memegang spatula. Ia menggerak-gerakkan genggamannya di tangan Anthea secara asal. “Kau tinggal menggerakkan tanganmu seperti itu setelah menurunkan minyak goreng dan telur. Mudah, kan?”

Anthea mendelik dan menatap pria di sampingnya tajam. “Kalau kau berpikir aku akan menurutimu, kau–”

Ucapan gadis itu terhenti seiring dengan tangan Sehun yang mengacak rambutnya ringan sambil tersenyum. “Kemarin aku tidak makan malam, dan sekarang aku lapar sekali.”

Sebelum ia sendiri terbujuk dengan senyum manis pria itu, Anthea dengan cepat berkata kembali, “Kau pikir aku akan berkata ‘Omona, Sehunnie… Kau harus makan yang teratur. Bagaimana kalau kau sakit dan bla bla bla…’ Lupakan. Aku bukan fansmu. Dan bukankah kau punya manager? Harusnya orang itu memastikan supaya kau tidak kelaparan!”

Senyum di wajah Sehun semakin melebar, mendengar omelan itu. Ia menunduk agar bisa melihat wajah gadis yang hanya selehernya itu dengan jelas. “Aku merindukanmu, Anthea.”

Mau tidak mau emosi gadis itu langsung mereda, digantikan dengan senyum lebar. “Tentu saja! Kau kan tidak bisa hidup tanpaku.”

Sebenarnya gadis itu setengah berharap Sehun akan menyangkal dan akhirnya mereka akan berdebat lalu pria itu akan lupa dengan rencananya untuk dibuatkan sarapan. Namun, alih-alih seperti itu, pria di sampingnya malah berkata, “Kalau begitu kenapa kau tidak menetap saja di Korea?”

Senyum di wajah Anthea pudar, tangannya melepaskan spatula dengan kaku. “Aku tidak bisa meninggalkan Dad di sana.”

“Ayahmu tidak keberatan.” Sehun mengangkat bahunya. “Lagipula pendidikan di sini tidak begitu buruk. Kau bisa melanjutkan kuliahmu di sini.”

“Tentu saja dia tidak mungkin menolak usulanmu. Apa kau belum sadar juga kalau ia bahkan lebih menyayangimu dibandingkan denganku? Memangnya yang anaknya itu siapa? Bagaimana mungkin ia setuju-setuju saja meninggalkan anak perempuannya di sini.”

“Jangan manja. Kau bukan anak sepuluh tahun yang seperti emas bagi penculik anak-anak.”

Anthea memukul ringan lengan Sehun. “Aku tidak manja.”

“Lalu?”

“Kau pasti akan sibuk sekali, Sehunnie! Kau seorang artis. Percuma saja aku pindah ke sini. Kita hanya akan bertemu beberapa kali dalam sebulan!” Jawab Anthea tidak tahan. Di Amerika walaupun ayahnya begitu sibuk, tapi paling tidak ia masih bertemu dengan pria baya itu setiap malam sebelum tidur. Jika dia pindah ke sini? Astaga, ia pasti akan mati kebosanan sendirian.

“Ah, jadi itu masalahnya?” Saat Anthea tidak menjawab apapun, Sehun kembali melanjutkan, “Aku bisa pindah ke sini kalau kau mau. Dengan begitu kita akan bertemu setiap malam, kan?”

“Ha ha. Lucu sekali.”

“Aku serius!”

“Sayangnya aku tidak mau.”

“Wae?”

Anthea memandang Sehun malas. Pria ini bodoh atau apa?!

“Hm?” Desak Sehun lagi.

“Sejak kapan aku mempunyai sahabat seperti kau, hah? Kau pria dan aku wanita. Kita tidak boleh tidur di satu rumah, apartemen atau apapun itu sebelum menikah! Kau pikir karena aku besar di Amerika aku jadi menyepelekan hal-hal seperti itu?!”

Tanpa bisa menyembunyikannya sama sekali, Sehun tertawa keras. Pria itu sama sekali tidak berpikir ke arah sana. Namun, karena gadis itu terlanjur mengemukakannya jadi mau tidak mau ia jadi ikut berpikiran yang ‘aneh’.

“Kalau begitu kita menikah saja.”

Anthea menyipitkan matanya, mulai merasa kesal. “Siapa bilang aku mau menikah denganmu?”

“Lalu kau mau menikah dengan siapa? Andrew Garfield yang kau puja-puja itu? Atau Robert Downey Jr?”

Anthea mengangguk polos.

“Asal kau tahu, Andrew sudah hampir berusia 30 tahun dan Robert itu sudah 47 tahun. Aku sama sekali tidak menyangka kalau kau menyukai pria tua.”

Anthea mendelik, “Kalau kau sadar mereka sudah sangaaaaat tua, berarti kau juga sadar kalau umur mereka sama sekali tidak mempengaruhi wajah mereka.”

“Kau buta sampai tidak bisa melihat keriput di wajah Robert D?”

Anthea menginjak kaki Sehun keras-keras. “Lihat, kan? Kita bahkan belum menikah tapi kau sudah membuatku kesal setiap saat!”

“Menurutmu siapa yang memulainya?”

“Kau!” Jawab Anthea langsung. “Sudahlah, kau bilang kau lapar, kan? Silahkan masak sen-di-ri!”

Anthea melangkahkan kaki kasar, namun belum sampai beberapa langkah ia merasa pinggangnya sedikit ditarik dan sedetik kemudian Sehun sudah memeluknya dari belakang.

“Aku belum memelukmu.” Ucap pria itu memberi alasan. Setiap Anthea kembali ke Korea, pria itu memang selalu memeluknya begitu mereka bertatap muka. Namun, sepertinya pagi ini hal itu sedikit tertunda.

Anthea berusaha melepaskan diri, namun pelukan pria itu dengan seenaknya malah semakin kencang. “Kau benar-benar menyebalkan, Sehunnie.”

“Aku tahu.” Jawabnya sambil setengah tertawa. “Aku hanya suka melihatmu marah-marah.”

“Kau bilang apa?! Yak, sahabat macam apa kau ini, hah?”

“Aku calon suamimu, bukan sahabatmu.”

Mendengar hal itu Anthea mengeluarkan suara seperti orang muntah. Gadis itu melepaskan pelukannya dan menatap Sehun dengan mengejek. “Calon suami?”

Sehun mengangguk percaya diri.

“Aku sebenarnya tidak keberatan, tapi….”

“Apa?”

“Tapi, wajahmu….” Lanjut Andrea menggantung.

“Mwoya?! Kau benar-benar tidak bisa diajak berdamai, ya?”

“Itu fakta, Sehunnie… Siapapun yang lebih jelek dari Andrew ataupun Robert maka dia tidak bisa diperhitungkan.”

Mendengar itu, Sehun membuka telapak tangannya di hadapan Anthea. “Kembalikan kunci mobilku.”

“Shi-reo!!” Anthea memeletkan lidahnya sambil tersenyum penuh kemenangan. “Silahkan masak sendiri dan segera pulang setelah sarapan, arasseo?”

Beberapa saat kemudian Sehun hanya menggelengkan kepalanya melihat punggung Anthea yang masuk ke dalam kamarnya. Bibirnya perlahan-lahan membentuk tawa kecil. Ini bukan pertama kalinya ia dan Anthea membahas soal ‘menikah’. Ia selalu suka mengganggu gadis itu dengan berpura-pura menjadi calon suaminya. Dan, astaga! Kali ini ia benar-benar menyadari betapa ia merindukan gadis itu. Bagaimana mereka selalu berbeda pendapat dan bagaimana gadis itu selalu bertindak seenaknya sendiri. Ia sendiri tidak habis pikir, bagaimana mungkin ia bisa hidup dengan benar di bulan-bulan sebelumnya dengan hanya berhubungan melalui telepon atau Skype? Gadis itu…. Sepertinya ia tidak akan sanggup jika gadis itu pergi lagi.

***

Anthea bersenandung kecil di atas mobil Sehun sambil memutar ulang adegan di kepalanya yang harus ia lakukan di lokasi syuting sebentar lagi. Jari jempolnya mengetuk-ngetuk setir dan kepalanya sesekali bergerak untuk mengikuti irama musik. Hari ini managernya tidak bisa menjemput ke apartemennya karena sesuatu hal. Dan hal itu sama sekali tidak gagal untuk membuat gadis itu lagi-lagi menggerutu. Manager macam apa yang tidak bisa mengerjakan pekerjaannya dengan benar?

Hari ini ia menjadi model untuk salah satu boyband ternama di Korea. Ia sebenarnya tidak terlalu mengenal mereka, namun kalau tidak salah dulu ia pernah beberapa kali menonton reality show salah satu personilnya yang dipasangkan dengan Victoria. Member girlband dari perusahaan tempat Sehun bernaung.

Tidak sampai tiga puluh menit kemudian ia tiba di lokasi syuting yang nyaris sudah dipenuhi dengan para kru. Anthea berjalan pelan sambil beberapa kali tersenyum, membungkuk, dan mengucapkan salam untuk menyapa siapapun yang ditemuinya. Ia bukanlah gadis yang ramah. Namun pekerjaannya selama ia di Seoul mau tidak mau membuatnya menjadi protagonis.

“Oppa!!!” Anthea memanggil managernya yang sedang asyik mengobrol dengan salah satu member 2PM. Gadis itu melambai-lambaikan tangannya saat managernya itu menoleh dengan bingung.

Sang manager balas melambaikan tangannya dan tanpa menunggu lebih lama lagi, ia segera berlari menghampiri Anthea.

“Astaga, ini Anthea-ku?” Sang manager memeluk Anthea erat tanpa memperdulikan erangan protes dari gadis itu.

“Yaaaaak!!! Kau berniat membuat skandal denganku, heh?”

Pria yang berperan sebagai managernya itu melepaskan pelukannya dan mulai menatap Anthea dari atas sampai bawah. “Kau sedang diet?”

Anthea mau tidak mau memandang tubuhnya sendiri. “Aku tambah kurus?” Tanya gadis itu setengah berharap.

“Yak yak yak! Apa kau tidak tahu kau sudah sekurus apa, hah?”

Anthea hanya tersenyum manis, membuat sang manager berdecak malas. Ia tidak pernah berhasil menegur gadis itu selayaknya manager pada umumnya. Gadis itu selalu memberi alasan bahwa ia sudah dewasa dan tahu yang mana yang benar dan salah. Namun, sejauh ini Anthea memang tidak pernah membuat masalah. Bahkan gadis itu selalu memilih-milih pria jika berpikir ingin terlibat skandal.

“Syutingnya akan dimulai!!” Teriakan itu membuat Anthea dan Ji Hoon menagernya menoleh.

“Ne, algetseumnida!” Balas Anthea. Gadis itu segera berlari menghampiri penata rias yang sudah menunggunya daritadi. Tangannya sedikit merapikan rambutnya yang berantakan. Matanya menatap sela-sela tangannya yang dipenuhi rambut. Untuk sesaat gadis itu mengerutkan keningnya bingung, namun segera menggelengkan kepalanya kembali.

“Annyeong haseyo.” Sapa Anthea berusaha ramah sambil sedikit menunduk. Wanita itu membalas sapaannya sambil tersenyum. Mereka berkenalan dengan singkat lalu tidak lama kemudian seorang pria datang menghampiri mereka.

“Nuna, dia model hari ini?”

Anthea menoleh ke sumber suara dan melihat pria berbadan besar sedang berdiri sambil menumpukan tangannya di meja rias lalu menatapnya dengan senyum lebar. Anthea balas tersenyum kikuk lalu menundukkan kepalanya lagi. Rambut pria itu ditata ke atas dan ada beberapa perhiasan seperti berlian yang ditempel ke wajahnya.

“Ah, kalian pasti belum berkenalan.” Ucap wanita yang sedang menata rambut coklat gelap milik Anthea.

“Aku memang tidak mengenalnya, tapi dia pasti mengenalku. Benar, kan?” Ucap pria itu percaya diri. Astaga, jika bukan karena ia harus menjaga imagenya dengan baik maka Anthea pasti sudah akan muntah di tempat.

“Maaf, tapi—”

“Dia model luar, Taecyon~a. Tentu saja ia tidak mengenalmu. Namanya Anthea Ferrel. Tapi kau bisa memanggilnya dengan Anthea saja.”

“Annyeong haseyo.”

Taecyeon membalas sapaannya. “Ne, annyeong haseyo. Bangapseumnida, Taecyon imnida.”

Anthea hanya mengangguk asal lalu menatap dirinya sendiri di cermin. Ada yang berubah dari wajahnya, ia sudah menyadari itu dari sewaktu ia di Amerika. Bukan karena makeup yang biasa dipakainya ataupun karena jerawat atau alergi. Dia memang kelihatan… kurus. Managernya benar. Wajahnya terlihat lebih tirus dan tulang pipinya sedikit menonjol walaupun itu sama sekali tidak merusak penampilannya.

“Kau sakit?” Tanya penata rias tersebut, yang membuat Anthea seketika itu juga mengalihkan padangannya dari cermin.

“Anieyo. Sudah selesai?” Tanyanya mengalihkan pembicaraan.

Begitu penata riasnya itu mengangguk, Anthea segera berdiri dari tempatnya dan menuju ke bagian kostum. Setelah mengucapkan salam seperti tadi dan berkenalan singkat gadis itu segera memakai kostumnya. Entah kenapa ia merasa tidak enak badan hari ini. Padahal biasanya itu hanya terjadi ketika ia tidak sarapan pagi. Tapi, tadi sebelum Sehun pulang, pria itu sudah menyiapkan sarapan di mejanya. Dan seperti biasa, Anthea menghabiskannya sampai bersih.

Ia tidak berniat memberitahu managernya. Ini sudah pekerjaannya. Ia harus bersikap professional. Lagipula ia hanya merasa sedikit pusing. Yang paling penting hal itu tidak mengganggu penampilannya di depan kamera. Karena walaupun sedikit pucat, hal itu tertutupi dengan makeup yang dipakainya. Wajahnya sama sekali tidak berubah. Tetap sempurna seperti biasa.

***

“Kau yakin tidak ingin memakai stunt? Seratus meter pertama tidak akan memakai tali pengaman.”

Anthea menggelengkan kepalanya sambil menatap tebing setinggi dua ratus meter di depannya dengan semangat. Gadis itu menyukai ketinggian. Ia menyukai hal-hal yang bisa membuat jantungnya bekerja ekstra, hal-hal yang memacu adrenalinnya sampai membuat telapak tangannya basah karena keringat. Walaupun kali ini ia hanya menggantungkan nyawanya pada tumpukan kasur di bawah karena tali pengaman sama sekali tidak boleh kelihatan kamera. Tapi ini adalah hobbynya. Hal yang sangat disukainya dan selalu dilakukannya di Amerika. Seharusnya managernya itu mengenalnya dengan baik.

“Siap?” Tanya sutradara pada Anthea. Gadis itu mengangguk dan tersenyum lebar pada managernya.

“Percaya padaku.” Ucap Anthea percaya diri.

Gadis itu mengambil tempat di depan tebing bersama dengan tujuh member 2PM lainnya. Pria yang bernama Nickhun, yang tepat berada di sampingnya itu tersenyum untuk menyemangati Anthea. Mereka memang sempat berbincang sebentar sebelum syuting benar-benar dimulai.

Anthea melewati menit-menit pertama dengan mudah. Bahkan gadis itu memanjat jauh lebih cepat dibandingkan dengan beberapa member lainnya. Anthea menoleh ke bawah dan membuat tangannya berkeringat karena ketinggian itu. Ia berhenti sebentar dan bertahan di posisinya setelah mendengar arahan sutradara agar menunggu beberapa member yang ketinggalan.

“Anthea.”

“Ya?”

“Kau—” Kata-kata Nickhun terhenti seiring dengan cairan merah yang keluar dari hidung Anthea.

Anthea yang juga merasakan itu, segera menunduk dan dengan satu tangan yang menyanggah tubuhnya ia, berusaha membersihkan darah itu. “Oh, shit!” Umpatnya.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya Nickhun panik. Namun karena tidak mendapat jawaban apapun, ia segera menoleh ke bawah, “Hyung!!!”

Anthea tidak bisa mendengar apapun lagi. Hari ini ia memang tidak enak badan namun gadis itu sama sekali tidak memperhitungkan hal itu ketika memutuskan untuk memanjat. Tidak ada tali pengaman di badannya dan itu berarti ia harus bertahan. Tangannya yang berkeringat dingin mulai sedikit bergetar. Ia merasakan tubuhnya sedikit ditarik ke samping agar bertumpu pada tali pengaman yang melilit tubuh Nickhun.

Kepala gadis itu terkulai ke belakang yang mau tidak mau membuat Anthea menutup mata karena sinar matahari langsung. Astaga, apa yang ia lakukan di hari pertama syuting? Gadis itu benar-benar tidak bersikap professional.

Mengabaikan rasa pusing yang hebat di kepalanya, Anthea berusaha mengangkat kepalanya dan membuka matanya. Ia menoleh pada Nickhun yang juga sedang menatapnya khawatir.

“Aku tidak apa-apa.” Anthea berusaha melepaskan diri dan akhirnya mulai kembali bertumpu pada kedua tangannya sendiri.

“Kau yakin?” Nickhun mulai melepaskan tangannya di pinggang Anthea walaupun masih dengan ragu-ragu. Ia tahu gadis itu bukan gadis lemah. Bahkan bisa dibilang panjat tebing adalah hobbynya. Namun, di sisi lain, ia juga tahu ada yang tidak beres dengan gadis itu hari ini.

Anthea mengangguk yakin. “Aku tidak apa-apa.”

Gadis itu berusaha tersenyum pada Nickhun, namun tidak sampai beberapa detik kemudian, pegangan tangannya terlepas. Gadis itu menjerit dan menutup matanya kuat-kuat dengan takut. Lalu hal terakhir yang diingatnya adalah tubuhnya membentur sesuatu dengan sangat keras dan juga teriakkan Nickhun yang memanggil namanya dari atas.

***

Sehun melangkahkan kakinya di lantai rumah sakit itu dengan cepat. Napasnya memburu, begitu juga dengan pelipisnya yang dibanjiri keringat. Astaga, bagaimana mungkin ia tidak sadar kalau gadis itu sakit tadi pagi? Seharusnya ia melarang gadis itu ke lokasi syuting. Seharusnya ia tidak meminjamkan mobilnya agar gadis itu tidak bisa berangkat. Seharusnya ia memaksa untuk tetap tinggal di apartemen gadis itu. Seharusnya—ah, brengsek!

“Anthea.” Panggilnya begitu memasuki ruangan dan melihat gadis itu sedang duduk di atas kasur rumah sakit.

“Cepat sekali kau datang. Tidak ada jadwal hari ini?”

Tanpa menjawab gadis itu, Sehun melangkah mendekat dan langsung mendorong kepala gadis itu walaupun dengan pelan.

“YAK!!! Kenapa mendorong kepalaku?!!”

“Bodoh.” Balas Sehun langsung. “Kalau tahu sakit, kenapa masih pergi bekerja, hah? Sekarang mana hasil pemeriksaanmu?”

Anthea langsung melipat surat yang berada di tangannya dan menjauhkannya dari jangkauan Sehun. Ia membuka selimut yang menutupi setengah tubuhnya, menujukkan kakinya yang di gibs. “Patah.” Jelasnya singkat.

Alih-alih menunjukkan emosinya di depan gadis itu, Sehun hanya tersenyum tipis sambil berkata dengan santai. “Kalau begitu kau pasti tidak bisa melakukan apapun dengan sendiri, kan? Aku akan tinggal di apartemenmu selama kau di Seoul.”

“Bagus. Kebetulan aku juga tidak ingin merepotkan Ji Hoon oppa.”

“Cih, harusnya kau berterima kasih padaku!” Gerutu Sehun. Pria itu duduk di atas tempat tidur Anthea bagian samping. “Kau habis menangis?” Tanya Sehun setelah melihat wajah gadis itu dari jarak dekat. Bulu mata gadis itu masih basah walaupun matanya sama sekali tidak terlihat sembab.

Anthea hanya mengangkat bahunya lalu menunjuk kakinya sendiri. “Kau tahu, aku berpikir untuk menetap di Seoul.”

“Jinjja???” Sehun sama sekali tidak bisa menyembunyikan senyumnya sekarang.

Anthea mengangguk. “Dengan satu syarat. Kau tinggal di apartemenku, sekaligus bertugas untuk memasak. Tidak boleh masuk ke kamarku tanpa mengetuk, dan tidak boleh shirtless di depanku. Arasseo? Sekarang….” Anthea memegang perutnya, berusaha bersikap dramatis. “Aku lapar sekali.”

“Karena kau sedang sakit, jadi…. Kau ingin makan apa?”

Anthea tersenyum senang. “Ehm…. Beef steak. Barbeque. Spicy. No onion. No potatoes.”

“Baiklah. Kau tunggu di sini.” Sehun mengacak-acak rambut Anthea singkat sebelum akhirnya keluar dari kamar gadis itu.

Senyum Anthea perlahan-lahan pudar tepat saat Sehun menutup pintu di belakangnya. Gadis itu membuka kembali hasil pemeriksaannya yang diberikan dokter. Ia menggigit bibir bawahnya seiring dengan matanya yang kembali memanas membaca tulisan di sana. Ia membekap mulutnya sendiri untuk menahan isakannya sendiri.

Ia sehat. Ia bahkan jarang sekali terkena penyakit walaupun itu hanya sekedar flu biasa. Lalu sekarang? Bahkan satu detikpun terasa begitu berharga.

TBC

P.S: Harap dimaklumi kalau ini jelek. Aku lama gak nulis dan ini pertama kalinya nulis FF untuk EXO. Tadinya ide cerita gak kayak gini sama sekali. Tapi, karena akhir-akhir ini banyak banget ide mengenai penyakit dan kebetulan FF yang aku tulis sekarang adalah ini, yaaa gitu deh. Ini belum tau bakal happy end atau sadend. Soalnya aku ga pernah sekalipun nulis sadend, jadi kalo iya takutnya jadi hancur. Tapi kalo hap-end juga males. Aku lagi pengen mellow2an hehehehe. Ide ceritanya udah ketebak kan? Jadi *kalo bisa* jangan ditagihin lanjutannya yaaaaaa. Makasih udah baca^^

**

THANKS FOR READING 😀 WE OPEN BAD AND GOOD COMMENTS, BUT STILL ! KEEP RESPECT 😀

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE ALL ABOUT EXO: @EXO1st

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE FANFICTION : @EXO1st_INA

ALSO RECEIVE PRIVATE EMAIL 😀 JUST SENT TO : ask.exo1st@yahoo.com

exofirstwonderplanet@yahoo.com

VISIT OUR WORDPRESS : exo1stwonderplanet.wordpress.com

ORIGINAL MADE BY @ELISAMEY_ NO PLAGIRISM.

If you interest become official author or freelance author, please see https://exo1stwonderplanet.wordpress.com/ff-freelance/

 

Advertisements

Tagged: , ,

2 thoughts on “EXOtic’s Fiction “My Mean Girl” – Part 1

  1. yuan October 22, 2012 at 7:59 AM Reply

    keren banget.
    saya suka Sehunniee..
    dia keren banget. Bayangin Anthea, jadi pengen kek dia. 😀
    keren minn…

  2. mulyanipajari July 4, 2014 at 10:01 PM Reply

    min Anthea kenapa ? penasaran. Aku.baru baca part 1 nya nih 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: