EXOtic’s Fiction “Fated” – Part 1

EXOtic’s Fiction

Exo1stwonderplanet.wordpress.com

“Fated”

Title : Fated – Part1

Author: Han Soon Hee

Length : Twoshot

Cast:

  • Huang Zi Tao (EXO)
  • Sera (You)

Disclaim : SEMUA FANFICTION YANG DIPOST exo1stwonderplanet.wordpress.com adalah milik author yang menulis. DO NOT POST ANYWHERE WITHOUT ANY PERMISSION. And after read, please give comment^^ Every words from EXOWPers is A GOLD! *bow*

**

Author POV

“Sangat melelahkan, ya? Tidurlah dulu.” Ujar Sera lalu menepuk-nepuk ruang kosong di sampingnya. Isyarat agar Tao duduk disana.

Tapi, bukannya melakukan persis seperti yang disuruh oleh Sera, Tao malah merebahkan kepalanya di paha gadis  itu. Membuatnya sedikit terlonjak kaget. Ia sama sekali tidak memperdulikan hyungnya yang sedang menatapnya iri karena Sera memang selalu menyempatkan waktu untuknya.

“Mm, sangat melelahkan. Biarlah begini dulu.” Ujar Tao dengan mata terpejam. Tangannya terulur dan menggenggam jemari Sera dengan erat. Ia baru saja menyelesaikan konser pertamanya dengan sukses. Badannya mengeluarkan keringat, meskipun pendingin ruangan jelas-jelas menyala.

Ujung bibir Tao sedikit terangkat ketika merasakan tangan Sera mulai menyeka keringatnya dengan lembut. “Kau menjadi sangat manja.” Ujar Sera sambil menggelengkan kepalanya heran.

Mata Tao sontak terbuka, ia kemudian menatap Sera dengan cemberut, “Tidak boleh? Aku merindukanmu. Sudah seminggu kau selalu sibuk bekerja.”

Sera tertawa kecil, ia memang akhir-akhir ini sedang sibuk di cafe. Temannya baru saja berhenti bekerja, sehingga cafe tempatnya bekerja sedang kekurangan tenaga. Akibatnya, ia harus bekerja pagi dan malam. Ia hampir tidak punya waktu untuk sekedar menjenguk kekasihnya yang akan debut sebentar lagi. Untung saja ada tenaga kerja baru yang masuk kemarin. Jadi ia bisa meluangkan sedikit waktu.

“Mianhae. Kafesedang ramai, dan Hyun-Mi mengundurkan diri.”

“Gwenchanayo. Yang penting aku sudah bertemu denganmu sekarang.” Tao kali ini tidak kembali menutup matanya, melainkan manatap wajah gadis yang berada tepat di hadapannya dengan intens. Ia memperbaharui segala ingatannya mengenai gadis itu, bagaimana caranya berbicara, tersenyum, bahkan bergerak. Pada saat itulah ia baru sadar luka lebam tipis di tulang pipi sebelah kiri Sera.

Tao segera bangkit dari tidurnya, meraba luka Sera dengan hati-hati, “Luka baru lagi?” Kali ini nada suaranya terdengar serius, sekaligus khawatir.

“Ini… ini tidak apa-apa. Kau tidak perlu khawatir.” Sera memaksakan senyumnya.

“Apa yang terjadi?” Tao kembali bertanya tanpa memperdulikan ucapan Sera barusan. Karena ia tahu kalau Sera berbohong, gadis itu tidak baik-baik saja.

“Appa tidak sadar ketika melakukannya. Ia sedang mabuk…”

“Berhenti membelanya, Sera~ya. Keluarlah dari situ, eo?” Ujar Tao berusaha membujuk Sera. Ini bukan pertama kalinya ia mendapatkan luka seperti itu. Ibunya berselingkuh dengan pria lain, lalu pergi meninggalkan Sera dan ayahnya. Sejak itu juga ayahnya berubah menjadi sosok orang lain. Menjadi pria kasar dan selalu memukuli Sera untuk melampiaskan amarahnya.

“Dan meninggalkan appa sendirian? Kau tahu jawabanku, Oppa…”

Tao menghela nafasnya, tahu betul ia akan melakukan hal yang sama jika berada di posisi Sera. Tapi tetap saja, setiap bertemu dengannya, pasti ada luka baru.

“Baiklah, aku tidak akan memaksamu. Tapi berjanjilah padaku kau akan menjaga dirimu baik-baik…”

Sera hanya membalasnya dengan anggukan kecil, tidak yakin akan bisa melakukannya jika ayahnya mulai mabuk-mabukan.

“Kau sudah makan?” Ujar Sera mengalihkan pembicaraan. Tao yang langsung menyadari hal itu sama sekali tidak mencoba untuk berkata apa-apa. Berbicara tentang kedua orang tua Sera selalu membuat gadis itu merasa tidak nyaman.

Jadi Tao menggeleng, lalu mengerucutkan bibir. “Bukankah kau janji ingin membawakanku makanan?”

“Jjan!!” Sera mengangkat bekal yang sudah disiapkannya tadi pagi, kemudian tertawa menyadari tingkahnya sedikit kekanakan.

“Sera~ya, kau tidak memasak untukku juga??” Seru Lay yang tiba-tiba datang lalu duduk diantara Tao dan Sera. Otomatis memisahkan mereka.

“Hyung!” Tao memprotes.

“Tentu saja!Aku membawa makanan untuk seluruh member.” Sera kali ini memberi Lay tas yang berisi kotak bekal. Membuat pria itu tersenyum dengan senang.

“Gomawo Sera~ya!”

Sera hanya membalasnya dengan senyum.

“Hyung, kalau begitu, makanlah disebelah sana.” Ujar Tao dengan kesal.

“Shireo!”

“HYUNG!”

***

Sera menarik nafas dengan gugup. Tangannya yang berada di knop pintu bergetar kecil karena takut. Ia berusaha membuka pintu rumahnya tanpa suara. Mendapati lampu ruang tamu masih menyala.

Ayahnya sudah pulang.

Baru saja Sera ingin masuk ke kamar, suara ayahnya menghentikan langkah kakinya, “Darimana saja kau?”

Sera berbalik, menghadap tepat ke arah ayahnya. Ia sedikit meringis karena mencium bau alkohol pekat dari nafas ayahnya. Mata ayahnya merah dan rambutnya terlihat awut-awutan. Tampilan sehari-hari pria itu.

“Aku bekerja lembur hari ini.” Jelas Sera.

“Bekerja lembur?” Ayahnya memutar bola mata. “Tch, kau pikir aku akan percaya? Kau pasti pergi ke bar, kan? Pergi ke bar dan menjual tubuhmu di sana. Benar-benar tidak ada bedanya dengan ibumu.”

“Appa! Aku benar-benar pulang dari café!”

“Kau masih mau bohong, hah?!”

Sera terdiam, merasa nyeri di ulu hatinya ketika mendegar ucapan ayahnya. Ia bukan ayahnya yang dulu. Ayahnya tidak akan pernah berkata seperti itu. “Aku tidak pernah ke sana, appa.”

PLAK

Sera merasa kepalanya pening karena tamparan itu. Namun ia hanya berdiri disana, dan menatap ayahnya dengan tidak percaya.

“Pergi ke kamarmu. Appa sudah muak melihat wajahmu itu.”

Sera tidak berkata apapun dan langsung berlari menuju kamar. Air matanya langsung terjatuh begitu ia naik ke atas kasur dan meringkuk dalam selimut. Ia meraba pipinya yang terasa perih, tahu bahwa ada luka gores karena cincin ayahnya disana.

Hal itu memang sudah sangat sering terjadi, namun rasa sakitnya tidak pernah berkurang. Ayahnya sudah sering berkata kasar padanya. Harusnya ia membiasakan diri dengan hal itu. Ia merindukan sosok ayahnya yang dulu. Ayah yang berkata bahwa akan melindunginya, ayah yang menyambutnya dengan pelukan hangat tiap ia pulang sekolah, ayah yang menemaninya sebelum tidur. Astaga, ia merindukannya dengan teramat sangat.

Sera sedikit terlonjak begitu merasakan ponselnya bergetar dan melihat nama Tao disana.

Ia berdehem pelan untuk menormalkan suaranya, kemudian memencet tombol berwarna hijau di ponselnya.

“Yeoboseyo?”

Hanya butuh satu detik bagi Tao untuk mengenali suara gadis itu yang sedikit aneh. “Kau habis menangis.” Kata-kata itu lebih terdengar seperti pernyataan daripada pertanyaan.

“Aku tidak apa-apa.”

“Jangan berbohong Sera~ya.” Kali ini suara Tao berubah menjadi dingin. “Apa yang dilakukan pria itu?”

“Aniya. Dia tidak melakukan apa-apa.” Jawab Sera cepat, terlalu cepat sehingga Tao langsung tahu bahwa ia berbohong.

Terdengar helaan nafas dari sebelah sana, “Baiklah. Aku mengerti. Kau hanya harus ingat pesanku, jaga dirimu baik-baik, eo? Aku tidak suka melihat luka baru di tubuhmu setiap kita bertemu.”

“Mm…” Sera tercekat, ia sedang butuh tempat untuk bersandar, dan mendengar suara Tao membuatnya semakin ingin menangis. “Go…gomawoyo.”

“Kau yakin tidak ingin apa-apa?” Suara di seberang sana terdengar khawatir.

Tanpa bisa ia tahan, air mata Sera terjatuh. Gadis itu menggeleng pelan, mencoba menjawab pertanyaan Tao namun pria itu tetap saja tidak bisa melihatnya. Ia membenamkan wajahnya di bantal lalu terisak tertahan.

“Sera~ya…Gwenchana? Apa aku perlu kesana?”

Lagi-lagi Sera tidak menjawab. Ia takut jika berbicara maka ia akan menangis lebih parah daripada sekarang. Ia benci menangis.

Di seberang sana, Tao bisa mendengar isakan kecil Sera. Gadis itu terlalu menderita.

“A…aniyo.” Sera akhirnya menjawab dalam isakannya.

“Uljima…”Tao hanya bisa berkata seperti itu. Ia benar-benar bingung harus berbuat seperti apa. Ia juga tidak berani mengambil tindakan gegabah untuk pergi ke rumah Sera. Karena jika ayahnya tahu, pasti Sera-lah yang akan menanggung resikonya

Tao sama sekali tidak tahu, bahwa ucapannya barusan membuat air mata Sera mengalir semakin deras. Gadis itu ingin berhenti, tapi air matanya tidak bisa berhenti mengalir. Sera mencoba menggigit bibirnya, menahan isakan yang mendesak keluar.Ia tidak ingin terlihat lemah. Tao masih bisa mendengarnya sekarang.

Klik.

Sera memutuskan sambungan telepon mereka. Gadis itu segera memasuki aplikasi pesan, dan mengetik dengan tangan bergetar.

Oppa, aku tidak apa-apa. Mungkin hanya membutuhkan waktu sendiri. Aku akan tidur sebentar lagi jadi jangan khawatir, arasseo? Besok pasti sudah tidak apa-apa.

Setelah mengirim pesan itu, Sera segera mencabut baterai ponselnya, lalu mengingkari perkataannya pada Tao, gadis itu tidak tidur. Ia tidak bisa tidur.

***

Ini sudah beberapa kalinya Tao memandang ponselnya dengan raut tidak menentu. Sudah seminggu ini ia tidak bertemu dengan gadisnya karena jadwalnya yang sangat padat. Belum lagi pada malam pertemuan terakhir mereka kondisi Sera sedang buruk. Dan sekarang, ketika ia tidak mempunyai jadwal apapun sepanjang hari, giliran gadisnya yang harus sibuk bekerja di café.

Menyerah, ia segera menekan speed dial nomor satu di ponselnya. Terdengar beberapa nada sambung sebelum terdengar suara Sera dari seberang sana.

“Yeoboseyo?”

“Sera~ya…” Kali ini Tao merengek. “Kau benar-benar tidak bisa kemari? Bogoshippeoyo…”

Terdengar tawa dari seberang sana, “Mianhae, oppa. Café benar-benar sedang ramai.”

“Jebal…Eo?” Tao lagi-lagi berkata dengan rengekannya.

“Oppa, aku sedang sibuk.”Sera sedikit menjauhkan ponselnya, kemudian menyapa pelanggan yang baru saja masuk.“Oppa, sudah dulu ya.Aku akan menelepon ketika selesai bekerja.”

Klik

Sera langsung memutuskan sambungan teleponnya dan kembali sibuk bekerja. Ia sebenarnya juga merindukan Tao. Tapi mereka berdua juga tetap mempunyai kewajiban yang harus mereka lakukan. Dan ia yakin Tao sama sekali tidak keberatan dengan hal itu.

“Sera~ya, pesanan untuk meja nomor sembilan.”

“Ah, ne…”

Sera mengantarkan pesanan itu dengan cepat, juga dengan pesanan-pesanan yang lain. Ia baru saja selesai melayani pelanggan yang duduk di dekat pintu ketika melihat benda itu kembali terbuka, menunjukkan adanya pelanggan yang datang.

“Eoseo ose…” Ucapannya terhenti melihat Tao-lah orang yang berdiri disana. Sera membulatkan matanya, sama sekali tidak menyangka pria itu berani datang ke cafenya. Di sana, di pintu itu, Tao sedang menatapnya balik dengan tatapan penuh arti.

Ia tidak sendiri, melainkan dengan beberapa member EXO lainnya. Seisi café menjadi sedikit gaduh karena ada artis yang berkunjung. Sera berdehem salah tingkah. Ini memang bukan pertama kalinya ia merasa sangat ingin bertemu dengan pria itu. Tapi melihatnya tiba-tiba berada disini, di tempat kerjanya membuatnya bersemangat, terlalu bersemangat.

“Ehm… Silahkan duduk di sebelah sini.” Ia berusaha bertingkah senormal mungkin, mengingat ada banyak fans disini.

Sera menyerahkan menunya, lalu kemudian sadar bahwa sejak masuk ke dalam café ini, Tao sama sekali belum memalingkan tatapan darinya. Astaga, pria itu benar-benar… Bagaimana kalau sampai ada yang menyadarinya?

Americano.

Caramel latte.

Sera kali ini menatap Tao menunggu, hanya pria itu yang belum mengucapkan pesanannya. Seakan tersadar, pria itu hanya menunduk dengan malu lalu berkata, “Capuccino.”

Sebenarnya Sera sudah tahu bahwa Tao akan memesan Capuccino. Ia selalu memesannya ketika mereka sedang jalan berdua. Sera membungkuk lalu akhirnya melayani pelanggan café yang lainnya. Tanpa sadar bahwa Tao masih menatapnya.

Pria itu suka melihat cara gadisnya bergerak, mengucapkan salam dengan penuh semangat, termasuk bagaimana cara ia selalu tersenyum. Ia tidak pernah menyesali keputusannya untuk mencintai Sera.  Meskipun sebenarnya, hal itu datang begitu saja tanpa meminta pendapatnya.

Saat melihat Sera sudah menyiapkan pesanan miliknya, ia mengalihkan pandangannya pada kedua hyung-nya yang sedang melihatnya dengan tatapan tidak percaya.

“Kau mengajak kami kemari hanya untuk menemui Sera?” Tanya Kris tidak percaya. Tadi pagi, Tao hanya berkata ia ingin mentraktir hyungnya untuk makan ke café.

Tao menjawabnya dengan anggukan polos. “Lagipula, kan, aku sudah bilang kalau aku yang bayar.”

“Arasseo… Arasseo… Lagipula café ini tidak begitu buruk.” Balas Kris yang hanya mengangguk pasrah.  Mereka sudah kemari, dan perkataan Tao memang tidak bisa dikatakan salah. Pria itu yang membayar, dan mereka juga sedang tidak ada jadwal.

Tao tidak sempat membalas ucapan hyung-nya, karena suara Sera yang datang membawakan pesanan, “Americano, Caramel latte, dan Capuccino.

“Kamsahamnida.” Ucap Tao, ia tertawa geli melihat gambar panda di atas Capuccino-nya. Pasti Sera yang menggambarnya. Sera benar-benar tertawa terbahak ketika mendengar julukan panda dari fans dan sejak saat itu Sera selalu mengejek Tao dengan sebutan panda. Menurutnya, dikatakan panda adalah suatu hal yang sangat konyol.

Sera menahan tawanya ketika melihat reaksi Tao, jadi ia memutuskan untuk cepat-cepat pergi dari sana. Namun baru saja ia ingin melangkah, ia terinjak tali sepatunya sendiri sehingga mengakibatkan tubuhnya menjadi limbung. Tapi tepat sebelum ia benar-benar akan terjatuh, Tao menahan lengannya.

Astaga, ia nyaris terjatuh di depan Tao. Pasti akan sangat memalukan!

Namun Tao hanya menatapnya lalu berkata dengan suara direndahkan, “Kau lupa mengikat tali sepatumu, Nona Kim. Apa yang kubilang mengenai luka baru?”

“Aku kan tidak sengaja.” Kali ini Sera cemberut.

Tao tidak memperdulikan ucapan gadis itu sebelumnya, ia maju selangkah sehingga ujung sepatu mereka kini beradu. Pria itu memajukan wajahnya, sehingga berada tepat di samping wajah Sera. Tao berbisik, tepat di telinga gadis itu, “Dan juga… Aku merindukanmu.”

***

Sera sedang memasak ketika ayahnya pulang ke rumah. Ia hanya berharap ayahnya tidak mabuk lagi, mengingat hari ini Tao akan kerumahnya. Sera padahal sudah berusaha membujuk Tao agar tidak datang.

Bukannya tidak ingin memperkenalkan pria itu pada ayahnya. Tapi Sera tidak bisa menjamin ayahnya itu akan pulang dalam keadaan tidak mabuk. Hal itu sangat jarang terjadi, namun Tao bersikeras ingin menemui ayahnya bagaimanapun keadaannya.

“Appa, wasseoyo?” Sera mengeraskan volume suaranya, agar ayahnya bisa mendengar.

Tidak ada jawaban.

Sera menyerah. Astaga, bagaimana bisa ia membiarkan Tao bertemu ayahnya dalam keadaan seperti ini? Pria itu sendiri berasal dari keluarga baik-baik. Apa pria itu akan berubah pikiran setelah bertemu ayahnya?

Sera dengan cepat menggelengkan kepalanya. Jika seperti itu, Tao pasti sudah akan meninggalkannya dari dulu.

Sepasang tangan yang tiba-tiba melingkari perutnya membuat pikirannya buyar seketika. Berbagai peringatan agar berlari terus bermunculan di otaknya. Namun, ini ayahnya, kan? Ya, ayahnya tidak mungkin berbuat sesuatu padanya.

Sera memekik ketika sekelilingnya tiba-tiba menjadi gelap.Pemadaman lampu. Hal itu membuat Sera lebih takut lagi. Ia tidak pernah suka ketika ia tidak bisa melihat apapun.

“Appa?” Tanya Sera sedikit takut.Bukannya mendapatkan jawaban, Sera dapat merasakan hembusan nafas ayahnya di tengkuknya.

“A…appa…” Sera berkata dengan suara bergetar. Bau alkohol yang menyengat lagi-lagi merasuk ke indra penciumannya.

Semua pikiran mengenai ayahnya tidak mungkin berbuat sesuatu padanya, menyakitinya, terbukti salah ketika pria itu mendaratkan ciuman di leher Sera. Membuat anaknya itu merasa ketakutan luar biasa.

Sera dengan cepat meronta, mendorong ayahnya yang jelas jauh lebih kuat darinya sekuat tenaga. Pria itu sedikit limbung, dan Sera memanfaatkan kesempatan itu untuk lari. Meskipun kakinya sekarang bergetar hebat dan ia tidak bisa melihat apapun. Tapi ia menghapal rumahnya dengan sangat baik, sehingga padamnya lampu tidak terlalu membuatnya bingung.

Ia bisa mendengar dengan jelas langkah ayahnya yang mengikutinya dari belakang. Sera sudah nyaris mencapai pintu ketika ayahnya akhirnya mencekal tangannya dan membantingnya ke dinding.

“Appa…” Sera berusaha meronta di tengah-tengah isakannya. Dengan satu gerakan, ayahnya menarik kedua tangannya ke atas dan mencekalnya dengan satu tangan. Sera berusaha mendendang tidak tentu arah, tapi hal itu sama sekali tidak menghentikan ayahnya.

“Diamlah, gadis manis.” Sera terisak mendengar suara ayahnya yang terdengar begitu mengerikan di telinga. Ayahnya mulai menciumi lehernya kembali, tanpa memperdulikan gadis itu yang berusaha meronta dan berlari.

Sera menjerit ketakutan ketika merasa kulit dingin ayahnya menentuh bagian perutnya. Baru kali ini ia benar-benar merasa takut, ia tidak bisa melihat apapun dan hanya mendengar nafas memburu ayahnya.

Tepat ketika ayahnya ingin merobek kaos Sera, ia mendengar suara ketukan pintu dari luar.

“Sera~ya!!”

Namun Sera sama sekali tidak menemukan kembali suaranya untuk sekedar berbicara. Pria itu pasti mendengar teriakannya tadi.

Sera sempat berpikir bahwa dirinya akan selamat, namun kakinya langsung melemas ketika ayahnya tiba-tiba merobek kaos yang digunakannya. Pria itu bahkan benar-benar mengabaikan ketukan pintu dari luar.

Bersamaan dengan itu, pintu menjeblas terbuka dan Sera bisa sedikit melihat cahaya di ruang tamunya. Namun gadis itu sudah sama sekali tidak bisa berpikir. Ketika Tao memukul ayahnya dan langsung membuatnya tersungkur di lantai, Sera hanya bisa meringkuk ketakutan dan memeluk dirinya sendiri di lantai.

Ia lagi-lagi sedikit tersentak ketika Tao menyentuh  lengannya yang terbuka. Namun sentuhan pria itu berbeda. Tangannya terasa hangat, tidak dingin dan menakutkan seperti ayahnya.

Rahang Tao mengeras ketika melihat Sera dalam keadaan benar-benar kacau. Gadis itu bahkan melihatnya dengan tatapan takut.

“Sudah tidak apa-apa. Ini aku…” Ucap Tao lembut. Lalu segera memakaikan jaketnya pada gadis itu.

Awalnya Sera menatap Tao dengan ragu-ragu. Namun ia mengenali sosok Tao, dan yakin bahwa pria itu tidak akan berbuat seperti yang ayahnya lakukan.

“Oppa…” Sera menghambur ke pelukan Tao dan langsung menangis disana.

“Aku tidak mau tinggal di sini lagi. Aku tidak mau tinggal di sini.” Sera berkata dengan takut. Seakan Tao akan pergi dan meninggalkannya berdua dengan ayahnya yang entah sejak kapan berubah menjadi monster yang mengerikan.

“Ssh…” Tao mengelus puncak kepala Sera dengan lembut, seakan gadis itu bisa retak sewaktu-waktu. Ia tidak menyuruhnya untuk berhenti menangis, karena mengerti gadis itu sedang ketakutan.

“Jangan pergi…”

“Aku tidak akan pergi, aku berjanji…”

Tao mengangkat tubuh Sera yang masih sedikit bergetar. Membiarkan gadis itu memeluknya erat-erat dan membenamkan wajahnya di dada Tao.

***

Sera terbangun dalam keadaan terengah-engah. Kejadian semalam terulang dalam mimpinya. Butuh sedetik baginya untuk menyadari bahwa sekelilingnya terasa berputar dan kepalanya pening. Menyerah karena sakit kepala yang menyiksa, Sera masuk ke dalam selimut dan kembali menutup matanya. Berharap dengan seperti itu sakit kepalanya bisa sedikit berkurang.

Namun hal itu ternyata sama sekali tidak membantu, Sera tetap merasa sekelilingnya berputar meskipun sudah menutup matanya erat-erat. Kepalanya terasa berdenyut-denyut parah dan ia menggigil.

Sera memaksakan diri untuk membuka mata ketika mendengar suara pintu terbuka dan mendapati Tao sedang berjalan kearahnya. Tidak dengan senyum yang biasa ia tunjukkan, tidak dengan tatapan hangatnya seperti biasa. Tatapannya menjadi dingin, bukan tatapan yang biasa ia tunjukkan padanya seorang.

“Kau harus minum obat. Suhu tubuhmu naik.” Suara itu terdengar datar. Bahkan terlalu datar.

Tao duduk di pinggir kasur dan menyerahkan segelas air dan obat penurun demam di tangan Sera, tanpa sekalipun bertanya mengenai keadaan gadis itu sehabis bangun tidur. Sera hanya menerimanya sama sekali tidak berani menolak. Apa pria itu sedang marah padanya?

Tao mengambil gelas yang masih terisi setengah seusai Sera meminum obatnya dan langsung keluar tanpa sepatah katapun.

Melihat hal itu, Sera hanya terdiam. Merasakan sakit di dadanya. Ia sedang membutuhkan pria itu untuk sekedar tersenyum padanya. Bertanya bagaimana tidurnya. Tapi Tao malah menatapnya dengan tatapan dingin.

Apa pria itu… merasa jijik dengannya? Sera menutup matanya erat, ketika merasa ia sebentar lagi akan menangis. Tentu saja, memangnya apa yang selama ini dipikirkannya? Bahwa pria itu akan menerimanya dengan tangan terbuka setelah ia disentuh oleh ayahnya sendiri?

Tentu saja… Sera berkata dalam hati sambil berusaha untuk kembali tidur dan melupakan semuanya. Tentu saja ia jijik denganku. Memangnya apa yang kuharapkan?

 

***

“Bukan begitu Keira~ya…”

You are so stupid! How could you avoid her like that?!” Keira berkata dengan jengkel.

“Aku tidak menghindarinya… Hanya saja, kau tahu? Aku merasa bersalah ketika melihat wajahnya. Kalau saja aku tidak terlambat pada saat itu, pasti tidak akan terjadi apa-apa.” Tao mengusap wajahnya gusar.

Then so what?! You are not the one who want to rape her! Kau datang, oppa… Bukankah yang penting ayahnya belum bertindak terlalu jauh?” Keira meremas tangan sahabat prianya itu, mencoba membangkitkan semangatnya.

“Tetap saja…”

“Oppa!” Keira dengan cepat memotong perkataan Tao sebelum pria itu sempat merasa bersalah lebih jauh, “Tidakkah kau pikir bahwa di saat seperti ini-lah Sera benar-benar membutuhkanmu? Sekarang dia pasti sedang terpuruk, oppa… Sebaiknya kau meminta maaf dan menjelaskan sifat anehmu padanya belakangan ini.”

Tao menghela nafas berat, “Mungkin sebaiknya memang begitu.”

“Tentu saja!”

“Apa menurutmu dia akan menerima permintaan maafku? Bagaimana kalau dia bertambah marah padaku?” Kali ini Tao berkata dengan cemas. Membayangkan gadis itu marah padanya, dan tidak mau berbicara dengannya membuat perutnya terasa melilit.

“Lebih baik daripada tidak sama sekali.”

“Jadi menurutmu dia akan marah??”

Keira tertawa, “Kalau aku menjadi Sera aku sudah menendangmu sejak kemarin.”

Tao mendelik kesal pada Keira yang memang sengaja mengejeknya, namun pria itu dengan cepat memperbaiki ekspresinya, ia tersenyum lalu berkata, “Gomawo… Padahal kau baru pulang dari Canada.”

“Mm! Kau seharusnya mengantarku jalan-jalan! Bukan merepotkanku dengan kisah cintamu yang membosankan.”

“Membosankan?!”

Keira menahan tawanya, “Aku bercanda.” Melihat Tao yang masih memberengut, Keira berkata dengan cepat, “Kau sebaiknya meminta maaf sekarang. Lebih cepat lebih baik.”

“Arasseo. Gomawoyo!”

Keira mengangguk dan memeluk pria itu, “Semoga berhasil.”

Tao membalas pelukan Keira tanpa ragu, lalu sekali lagi mengucapkan terima kasih.

TBC

P.S from Author : Don’t wait this FF. And please give me comment ^^ Kamsa ^^

**

THANKS FOR READING 😀 WE OPEN BAD AND GOOD COMMENTS, BUT STILL ! KEEP RESPECT 😀

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE ALL ABOUT EXO: @EXO1st

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE FANFICTION : @EXO1st_INA

ALSO RECEIVE PRIVATE EMAIL 😀 JUST SENT TO : ask.exo1st@yahoo.com

exofirstwonderplanet@yahoo.com

VISIT OUR WORDPRESS : exo1stwonderplanet.wordpress.com

ORIGINAL MADE BY @monmonk NO PLAGIRISM.

If you interest become official author or freelance author, please see https://exo1stwonderplanet.wordpress.com/ff-freelance/

 

Advertisements

Tagged: , ,

2 thoughts on “EXOtic’s Fiction “Fated” – Part 1

  1. mulyanipajari July 4, 2014 at 9:46 PM Reply

    Wah bagus ceritanya thor. Aku baru baca part pertama nih 😀

  2. ebisalbiahelf January 4, 2015 at 12:31 PM Reply

    keren thor ff’y… tapi part 2’y mana thor ???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: