EXOtic’s FICTION “Sacrifice” – Part 1

EXOtic’s FICTION

Exo1stwonderplanet.wordpress.com

“Sacrifice”

 

 

Title : Sacrifice

Author : Han Je Si

Sub Title : 1st Story – Is It My First Heartbeat?

Main Cast :

  • Kai- Kim Jong In
  • Fellia

Length : 10 shot

Genre : Romance

Rating : PG-13

Summary :

 

I only give my whole life to one person.

Person who especially can make my heartbeat feels so real.

When i met her, World is joking around me.

Should i release you?

Can i really feel so alive when my eyes can not see you?

Can i really feel so alive when my ears can not hear you?

I learned one thing from love.

Sacrifice.

 

**

 

I was so afraid when i found out that this heart is taken by someone

I believe that i wont fall for someone

But its false, the truth i fell for him

But when i try to trust you

To love you

To see only you

This world is joking around me.

Can i really feel so alive when my eyes can not see you?

Can i really feel so alive when my ears can not hear you?

I learned one thing from love.

Sacrifice.

 

Disclaim : SEMUA FANFICTION YANG DIPOST exo1stwonderplanet.wordpress.com adalah milik author yang menulis. DO NOT POST ANYWHERE WITHOUT ANY PERMISSION. And after read, please give comment^^ Every words from EXOWPers is A GOLD! *bow*

 

 

**

 

A simple story between Kim Jong In & Fellia.

 

 

Author’s POV

Fellia memasuki kamarnya, ia baru saja pulang setelah lelah mencari pekerjaan. Memang rumah ini tidak terlalu bagus, namun tetap tergolong layak untuk ditempati.

Sudah kira-kira dari lahir, Fellia tinggal di tempat ini bersama dengan eomma-nya tanpa seorang sosok appa. Ia mendambakkan seorang pria yang datang menjemputnya dan mengajak dirinya berserta sang eomma untuk tinggal dan akhirnya memiliki hidup yang lebih layak. Namun impian itu semakin pupus. Fellia pun tak ingin hidup dalam mimpi lagi, sudah cukup 16 tahun. Sudah saatnya ia melihat ke depan.

Fellia yakin, appa-nya pasti orang kaya. Itu terlihat dari wajah dan badannya yang mulus seperti sosok tuan putri yang kerap kali terlihat kucel akibat kotornya jalanan dan kehidupan sehari-harinya. Walaupun sudah memaksa eomma-nya untuk memberitahu siapa appa-nya, eomma tak kunjung juga memberitahu.

Fellia adalah seorang gadis berumur 16 tahun. Ia putus sekolah karena eomma-nya tak mampu membiaya-i-nya. Lagipula ia berniat untuk langsung bekerja sejak satu tahun yang lalu lulus dari SMP untuk membantu eomma-nya. Tapi sebenarnya Fellia adalah gadis yang sangatlah pintar. Ia sebenarnya mampu untuk mendapat beasiswa tinggi, tapi ia lebih memilih untuk bekerja daripada bersekolah.

**

Titttttttttttttttt!!!!!

Fellia segera berputar kebelakang dan termundur beberapa langkah, tak sengaja barang belanjaannya terlempar tak tentu arah.

Yak neo!! Jalan hati-hati!” teriak seorang pria yang lalu kemudian keluar dari mobilnya yang beratap terbuka itu, “Kalau mau mati jangan di depan mobilku!”

Fellia dengan kesal berdiri, mengusap sebentar lututnya yang lecet lalu dengan muka semerah kepiting rebus menatap pria itu.

“Yak! Kamu yang tidak punya mata! Tau tidak jalanan ini kecil? Mana aku tau akan ada mobil yang datang semewah punyamu!”

End of Author’s POV

**

Kai’s POV

“Yak! Kau yang tidak punya mata! Tau tidak jalanan ini kecil? Mana aku tahu akan ada mobil yang datang semewah punyamu!”

Jujur! Baru pertama kali aku mendengar kata sekasar itu dari seorang wanita. Awalnya aku berniat meminta maaf setelah melihat lutut lecetnya dan mukanya yang hampir menangis itu, tapi wanita ini sungguh menyebalkan.

“Ya terserah aku mau membawa mobil ini kemana, sebagai pejalan kaki yang benar, kamu yang harusnya berhati-hati!” balasku tak mau kalah

“Stop!” ucap Lay membuatku menoleh kearahnya.

Tak pernah kuberpikir Lay akan berjalan menuju gadis itu dan memberikan sapu tangan kesayangannya. Seorang Lay? Ah biasa saja, dia memang baik. Tapi pada orang miskin? Apa ia tidak jijik?

“Are you okay? Ada yang sakit? Mau ku antar ke dokter?” ucapnya lembut.

“Untuk apa, Lay? Kita disini punya tujuan!”

“Kamu mau membiarkan seorang gadis dalam keadaan begini?” balasnya dengan tajam membuatku terdiam seketika, pandangan Lay memang kadang menakutkan. Lebih baik dia bermain mulut daripada bermain mata.

Wanita itu mendorong tangan Lay pelan dan mengambil jarak, “I’m okay. I don’t need it.” katanya pelan sambil tersenyum. Saking terpana akan senyumnya,  aku sampai tidak sadar kalau ia sedang berjalan ke arahku, “Kalau kamu mau cari gara-gara, you’re at the wrong place..”

Deg..deg..deg..

Perasaan apa ini?

End of Kai’s POV

**

 

Fellia POV

Deg..deg..deg..

Ada apa denganku? Kenapa jantungku berdetak dengan kencang? Apa yang terjadi? Masa aku punya penyakit jantung? Wah, aku pasti kena darah tinggi gara-gara pria ini!

Sedikit bingung sih mengetahui pria itu diam tak berkutik. Ah, aku tak ingin berada di sini lagi. Aku tidak mau pingsan gara-gara tekena darah tinggi.

“Eh, tunggu sebentar”

Aku berbalik dan mendapatinya menggengam tanganku, seketika itu juga sekujur tubuhku serasa tersengat listrik..

“I’m sorry, aku ga bermaksud begitu. Oh ya, ini buat ganti belanjaan kamu yang aku hancurin” katanya lembut sambil mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya. Uang besar.

Aku ternganga melihatnya ia yang dengan mudahnya mengeluarkan uang sebanyak itu dari dompet yang ntah merk-nya apa dan terlihat begitu mewah.

Setan apa yang merasuki aku? Untuk apa aku memuji orang menyebalkan seperti dia? Aku menggeleng cepat, melepaskan genggaman tangannya dan menolak uang itu, “terlalu banyak.”

Ia menatap bingung. Apakah ia tak bisa berbahasa Korea?

“Tidak apa-apa. Ini untuk biaya obatmu juga.” katanya tak mau kalah

“Tidak, terima kasih. Aku hanya akan mengambil secukupnya untuk membeli belanjaanku yang rusak.”

End of Fellia’s POV

 

**

 

Kai’s POV

“Tidak, terima kasih. Aku hanya akan mengambil scukupnya untuk membeli belanjaanku yang rusak.”

Gadis itu bahkan terlihat mempesona. Kenapa baru sekarang setelah berkata sekejam itu aku baru merasakannya? Sial! Pasti dia sudah menganggapku tak sopan!

“Kai!! Yak Kim Jong In!” kata Lay sambil menggoyang-goyang kan badanku, aku daritadi sedang melamun? Oh! This is the first time!

“Ayo kita pergi. Kita masih punya tujuan disini.” kata Lay mengulangi perkataanku tadi sambil menyeringai, oh sial. Cepat-cepat aku masuk mobil dan segera melesatkan mobilku cepat.

**

Aku menoleh panik melihat kertas ini, alamat ini tidak mungkin salah, kan? Ini benar-benar rumah saudaraku?

Aku berjalan menuju pintu, dengan perasaan sedikit takut. Bisa saja kan aku salah injak atau ketuk lalu rumah itu runtuh? Gila!

“Tookkkk..tookkk…”

Aku melihat ke sekeliling tetap dengan menggunakan kacamata hitamku.. Lay masih saja duduk di dalam mobil, katanya dia mau membiarkan aku ber-reuni dengan ADIK TIRI-ku. Apa-apaan itu? Kalau bukan karena appa yang mau bertemu dengannya.. Aku tidak akan mau menjemputnya..

“Ya.. Chakkaman.. Nuguseyo?” kata seorang wanita dari dalam. Suaranya sedikit berat, kesan seorang ibu yang hangat. Ketika pintu itu terbuka, tampaklah seorang wanita setengah baya. Ia tampak tua dan lelah, tapi wajahnya khas dan tetap terlihat cantik dalam keadaan apapun. Ohh.. Ini adalah wanita yang pertama mengambil hati appa?

Sesaat setelah aku membuka kacamata hitamku, wanita itu segera masuk ke dalam rumah lagi. Hey, Ada apa?

“Maaf? Am I wrong?” tanyaku bingung.

“Lebih baik kamu pergi. Jangan ke sini lagi.”

“Tapi.. Saya salah apa?” tanyaku masih bingung..

“Kamu.. Aku tau siapa kamu.. Aku tidak akan mengizinkan pria itu merebut anakku satu-satunya.”

Aku berkacak pinggang, “Appa hanya ingin bertemu dengan anaknya.”

“Tidak, tidak bisa! Tidak akan kubiarkan.”

“Kenapa?”

“Karena pria itu akan memaksa-nya untuk tinggal. Tidak akan kubiarkan.”

“Kenapa ahjumma tidak memikirkan mungkin saja adik tiri-ku itu ingin bertemu dengan appa? Kalau saja appa tidak memintaku, aku tidak akan mau menjemput anak selingkuhannya.”

Dia keluar dari rumah dengan muka memerah dan air mata berlinangan. Sial. Aku salah kata lagi.

“Eh anak muda! Saya bukan selingkuhannya! Eomma-mu lah selingkuhannya! Kalau saja eomma-mu tidak kaya, mungkin kamu tidak akan lahir! Kalau kamu tak tau apa-apa, lebih baik pergilah!”

Aku menggeleng-gelengkan kepala melihat ahjumma tua itu, oke baiklah! Aku tau jalan cerita papa dulu. Aku tau memang eomma-lah selingkuhan appa. Tapi, mau bagaimana lagi? Aku susah sekali mengatur emosi-ku..

“Baiklah. Aku akan datang lain kali. Dan aku akan benar-benar membawa-nya kembali. Karena aku yakin dia pasti tidak ada di rumah sekarang.”

“Jangan kembali. Aku tau kamu tidak ingin hidup-mu diganggu, benar kan? Lebih baik jangan kembali.”

Aku berbalik, tidak berniat untuk mendengarkannya lebih jauh. Aku tidak akan menyerah. Sampai aku mendapatkan adikku. Aku berjalan ke arah mobil, menyalakan mobil-ku lalu kemudian melesat pergi. Sama sekali tidak menyadari seorang gadis masuk ke rumah itu dari arah lain.

End of Kai’s POV

 

**

 

Author’s POV

Dari sisi berbeda, Fellia dan Kai masuk ke suatu gedung. Fellia masuk kedalam ruang office girl dan mengganti baju-nya cepat.

Dia akan menjadi office girl baru. Eomma-nya tidak tahu akan hal ini. Ia hanya berpura-pura membantu di toko di wilayah sebelah, sementara ia akan menjadi office girl.

Awalnya ia ingin sekali memiliki pekerjaan yang lebih baik daripada ini. Tapi ia belum memiliki gelar apapun sehingga daripada tak bekerja sama sekali, ia akhirnya memilih menjadi seorang office girl.

Dari awal ia datang, kepala office girl sudah mengajak-nya berkeliling. Kata-nya ia akan mengurus ruangan dan melayani Tuan Muda. Kata-nya tidak ada yang kuat bersama Tuan muda karena selain ia bandel, ia juga playboy. Tapi Fellia tak ambil pusing karena hal itu. Mudah saja kan, ia tinggal membersihkan pagi-pagi dan malam sekali. Lalu kalau Tuan muda-nya ada pesanan, ia tinggal menitipkannya pada sekretaris Tuan muda-nya itu..

“Baiklah.. Ini ruangan Tuan Muda. Ingat, ia sangat suka kebersihan dan tidak suka barang-barang pribadi-nya dipindah-pindahkan dari tempatnya. Bersihkanlah sebelum Tuan Muda masuk.”

Fellia hanya menganguk lalu membuka pintu. Ruangan itu besar-besar sekali! 3 kali lipat dari rumah-nya. Tapi ia sama sekali tidak membuang waktu untuk terpana dan mengagumi ruangan itu, ia hanya melihatnya sekilas lalu kemudian mulai menyalakan vacum cleaner untuk membersihkan lantai berkarpet itu.

Setelah selesai, Fellia beranjak ke meja yang berada di tengah ruangan lalu kemudian menata meja tersebut. Beberapa berkas ia biarkan karena takut salah meletakkannya.

Tak lama ketika membersihkan bawah meja, ia menyentuh sebuah tombol dan bunyi aneh terdengar. Ia menengokan kepalanya kesana-kemari untuk mencari asal suara itu dan tak lama ia takjub melihat rak-rak buku itu bergeser membuka sebuah ruangan.

Dengan langkah ragu ia masuk dan terkejut melihat benda di dalamnya. Apa Tuan Muda-nya ini jelmaan nenek sihir versi pria yang begitu memuja dirinya dengan cermin-cermin ini?

“Siapa itu?”

Fellia terkejut dan tak lama kemudian keluar ruangan lalu kemudian menunduk, “Maaf pak.. Saya tadi salah pencet. Saya tidak tau kalau ada ruangan rahasia itu. Saya tidak akan memberitahukan orang-orang kalau bapak narsis karena mempunyai kaca seperti itu kok. Maaf ya pak.. Saya tidak akan mengulangi-nya lagi.”

Hening..

“Yak! Kamu kupecat! Jangan panggil saya pak! Panggil saya tuan muda.. Memang-nya aku setua itu? Lagipula.. Aku bukannya narsis! Itu ruangan danceku.. Tentu saja banyak kaca.. Lain kali jangan mudah menyimpulkan sendiri!”

Hening..

Tak lama kemudian terdengar suara tawa terpingkal-pingkal dan Fellia segera saja mengangkat kepala-nya melihat siapa Tuan muda narsis itu.. Namun tak lama Tuan Muda itu segera saja menghentikan tawa-nya.. Dan mereka berpandangan dalam..

End of Author’s POV

 

**

 

Kai’s POV

Aku memasuki gedung dengan langkah santai. Berhubung aku sedang malas berkumpul bersama anak-anak jadilah aku disini. Lagipula Luhan yang sering kukerjai sedang ke China untuk belajar persiapan sebelum pembuatan EXO. Jadilah diriku disini, bermalas-malas-an. Paling-paling anggota EXO lainnya juga melakukan hal yang sama. Stuck at their own office.

Lay sama Kris pasti ada di kantor mereka yaitu gedung sebelah. Kris ya dipanggil Kris Young Master, Lay dipanggil Lay Young Master, Luhan juga digedung yang sama dengan mereka berdua. Dan dia dipanggil Luhan Young Master. Chen adalah assistant yang biasanya membantu Lay. Sedangkan Tao, adalah asisstan serta bodyguard Kris. Xiumin adalah orang kepercayaan Luhan, sehingga mereka berdua ada di China sekarang. Setiap Tuan Muda memang memiliki assistant-nya masing-masing.

Ohya, kalian pasti bingung kenapa kantor kita berbeda? Jelas sekali ini karena kakek kita berbeda, saham pun berbeda.. Kami mewarisi saham Kakek kami satu-nya. Sedangkan Lay, Luhan, Kris itu mendapat saham Kakek kami yang dari China, Kakek Alex.

Aku sendiri dijuluki First Young Master. Lalu kemudian Kyungsoo sebagai second young master dengan Suho sebagai assistantnya. Dan Chanyeol serta Baekhyun sebagai third and forth young master, mereka sering berdua sehingga biasanya lebih mengandalkan satu sama lain daripada assistant mereka, Sehun. Sehun hanya sebagai petugas yang memberi kelakukan nakal mereka berdua. Perlu kalian tau, aku memang masih belum memilih assistantku pribadi. Assistant yang aku pilih sendiri memang harus aku yang mencarinya. Menurut sejarah Worldmine, assistant adalah orang yang harus dipercayai sampai mati. Sehingga assistant kami biasanya se-gender dan se-umur, kami perlu seseorang yang paling mengerti kami.

Mungkin kalian menanggap kami bodoh atau berlebihan dalam memilih assistant, tapi tidak bagi kami. Dalam dunia perbisnisan, tidak ada yang bisa dipercayai. Mungkin keluarga bisa mengkhianatimu, tapi assistant yang kamu pilih jarang bisa mengkhianatimu. Itu kata-kata yang sering dilontarkan kakek sebelum meninggal.

**

Aku pergi ke kafetaria dulu untuk membeli segelas cappuccino hangat dan meminum-nya pelan di kafetaria. Tidak mempedulikan para karyawan wanita yang menunjuk-menunjukku dengan semangat. Dasar wanita!

Aku memang baru berumur 17 tahun. Tapi memang-nya kenapa? Semua keluarga Worldmine sudah dilatih sejak kecil sebagai pemimpin. Jadi jangan salah, sekali kami serius, maka satu perusahaan bisa kami hancurkan dalam sekali ucap.

Aku berdiri dan membuang gelas kertas itu ke dalam tong sampah lalu naik ke dalam lift yang menuju ruanganku. Aku menengok sebentar ke ruangan Chanyeol dan mendapati dirinya sedang bermain bersama Baekhyun juga Kyungsoo. Aku menggeleng-geleng kepala lalu membuka pintu ruanganku.

Kenapa ruangan dance-ku terbuka? Siapa yang masuk? Bukannya pembantu sialan itu sudah kupecat?

“Siapa itu!?”

Tidak ada jawaban. Aku mulai melangkahkan kakiku sampai seorang wanita keluar dari ruangan itu sambil menundukkan kepala-nya. Aku tak dapat melihat wajahnya.

“Maaf pak.. Saya tadi salah pencet. Saya tidak tau kalau ada ruangan rahasia itu. Saya tidak akan memberitahukan orang-orang kalau bapak narsis karena mempunyai kaca seperti itu kok. Maaf ya pak.. Saya tidak akan mengulangi-nya lagi.”

Hening..

Aku menahan tawa-ku sambil berusaha mengatur suara, berusaha terdengar segalak mungkin “Yak! Kamu kupecat! Jangan panggil saya pak! Panggil saya tuan muda.. Memang-nya aku setua itu? Lagipula.. Aku bukannya narsis! Itu ruangan danceku.. Tentu saja banyak kaca.. Lain kali jangan mudah menyimpulkan sendiri!”

Gadis itu sama sekali tak berkutik seolah membatu di tempatnya. Tumben sekali, biasa-nya wanita-wanita itu segera menangis dan keluar ruangan. Sudahlah! Aku tidak tahan lagi. Tak lama kemudian terdengar suara tawa terpingkal-pingkal-ku.

Dan gadis itu segera saja mengangkat kepala-nya melihatku. Sekejap saja aku berhenti tertawa. Berusaha mengendalikan detak jantung yang tiba-tiba saja berdetak tak sesuai aturan. Membuatku tidak dapat berpaling sedikitpun darinya.

End of Kai’s POV

 

**

 

Fellia’s POV

 

“Neo? Kenapa bisa kau?” teriak kami bersamaan setelah larut dalam keheningan. Aku kembali menunduk. Seolah menjaga kesopanan-ku. Sementara ia memalingkan wajahnya kesamping.

Aku tidak tau kenapa. Tapi yang jelas aku bingung sekali kenapa jantung-ku berdetak kencang? Kenapa harus ada dia? Apa benar aku kena serangan jantung/darah tinggi gara-gara dia? Aduh Fellia! Jangan sakit! Jangan menyusahkan eomma-mu! Control your self!

Tak lama setelah menasehati diri sendiri, aku melihat Kai berjalan kearah meja-nya dan kemudian duduk diatas kursi-nya. Dengan takut aku melihatnya.  Tangannya yang bergerak-gerak seolah  mengisyaratkan aku untuk duduk kursi dihadapannya.

Aku segera duduk dan menatap-nya lurus..

“Kenapa kamu bisa disini?”

“Karena aku bekerja..”

“Kamu?” tanyanya bingung sambil melihat data record-ku.

“Kau berumur 18 tahun?”

Aku menelan ludahku. Baiklah, aku sedikit berbohong dalam hal ini. Tapi aku terpaksa, kan? Aku tidak punya pilihan lain. Aku harus mendapat pekerjaan ini.

“I..iya..”

“Kamu? Lebih tua dariku? Wah, tampang-mu menipu sekali…” ujarnya tidak sopan sambil menggeleng-geleng kepala.. Ingin rasanya kuambil sepatu dan kesumpal ke mulutnya dengan sepatu itu..

Deg..deg..

 

Jantungku masih tidak beraturan sementara dia masih membaca data recordku..

“Kamu bisa masak?”

“Bisa.”

“Apalagi yang bisa kamu lakukan selain itu?”

“Aku bisa menulis laporan, membuat schedule, berdebat. Dan sebagainya.”

“Bahasa apa saja yang kau kuasai?”

“Aku? Inggris dan Korea..” jawabku jujur. Walaupun aku putus sekolah, aku bekerja ditempat yang bisa menambah skill-ku. Sehingga pengalaman kerja-ku baik.

“Kamu… Mau jadi asisten pribadiku?”

Sekejap.. Tiba-tiba saja jantungku seperti berhenti berdetak.

End of Fellia’s POV

 

**

 

Kai’s POV

“Kamu.. Mau jadi asisten pribadiku?”

Aku mengutuk diri kenapa aku tidak bisa mengendalikan diriku? Ada apa sih? Bisa-nya seperti ini.. Oke.. Aku playboy.. Tapi aku selalu berpikir dalam melakukan segala hal. Tapi kali ini? Seolah tubuhku sendiri yang mengontrolku dan tak membiarkanku berkata apapun.

Dan baiklah.. Dia satu-satunya wanita yang dapat membuatku seperti ini. Dan satu-satunya office girl yang tidak ingin kupecat. Satu-satunya wanita yang ingin ku jaga tetap disisiku. Aneh bukan?

Wanita itu.. Yang kukenal dengan nama Fellia itu masih saja diam. Kenapa namanya susah sekali? Apa ia tidak mempunyai nama Korea? Ohya, apa aku salah bicara? Apa aku terlalu blak-blakkan? Apa ia akan menolak? Tidak. Tidak akan kubiarkan.

“Kalau kau jadi asisten pribadiku. Gajimu akan 10 kali lipat dari pada office girl.” ucapku cepat membuatnya melihatku dan menganga dengan sukses.. Namun tak lama ia berpaling dan mulai berpikir..

“Apa kurang? Aku akan menaikkan gajimu jadi 15 kali lipat..”

Dia kembali lagi melihatku dengan tatapan aneh-nya itu. Sementara mulutku terus berbicara tanpa henti, “Kurang? Aku akan..”

“Sudahlah, aku akan menjadi asisten-mu dengan gaji 15 kali lipat. Jangan ditambahkan lagi.” ucapnya cepat.

“Baiklah.”

Aku berdiri dan menyalaminya, “Welcome, my private assistant. Mohon bantuannya.”

End of Kai’s POV

 

**

Fellia’s POV

Baru sedetik aku menganguk, terjadi perubahan sangat besar dalam hidupku. Ya. Pria ini sukses sekali mengubah hidupku?

Aku berlari-lari di koridor bersama Kai,  maksudku Tuan muda Kim yang menggenggam tanganku. Ia yang memintaku memanggilnya Kai. Aku malu sekali dilihat oleh begitu banyak karyawan yang ada. Mereka pasti berpikir buruk tentangku. Pasti dikiranya aku menggoda lah, itu lah. Tamatlah riwayatku.

“YAK~~ LEPASKAN!”

“Bicaralah yang sopan nona, kamu adalah assistant ku.”

“Apa? Kamu sendiri dengan seenaknya menarik-narikku?”

“Itu resikomu. Aku membayarmu nona.”

Aku hanya bisa diam saat ia menarik tanganku. Tangannya yang menggenggam tanganku seolah memaksaku untuk menyeret kakiku berlari sampai di depan mobil-nya. Tak lama ketika kami sampai, ia berhenti sebentar membiarkanku untuk menarik napas. Ketika ia melepas genggaman tangannya, tangannya membuka pintu mobil dan seenaknya mendorong-ku masuk. Lagi-lagi semaunya, dan yang kulakukan hanyalah diam.

“Kita mau kemana?” teriakku saat dia masuk dan memasang selt belt untukku, dia hanya melihatku sesaat lalu kemudian memasang selt belt untuk dirinya sendiri.

Aku masih melihatnya, menuntut jawaban, “Yak! Jawab aku…”

“Kamu akan tahu sendiri nona.” katanya kemudian menyalakan mobil-nya dan dengan refleks aku menggenggam selt belt itu untuk menahanku tidak berteriak ditengah kecepatan mobil ini..

“TUAN MUDAAAAA!!!! PELANKAN!”

End of Fellia’s POV

 

**

 

Author’s POV

 

Kai menarik masuk Fellia dengan paksa kedalam toko baju..

“Ada apa tuan muda, ada yang bisa saya bantu?” kata seorang wanita setelah beberapa saat melihat Fellia dengan bingung.

Kai tersenyum, “Dimana baju-baju terbaru dan termahal ditempat ini?”

Fellia terbelalak kaget ketika mendengar itu, ia menoleh kearah Kai yang menyeringai usil kearahnya, namun akhirnya ia menundukkan kepalanya lagi. Tidak ada gunanya berdebat dengan tuan mudanya itu.

Kai segera saja berkeliling ruangan itu sementara Fellia masih ada dalam genggaman-nya, ia menarik dan melempar baju yang ia tidak suka dengan asal. Baju yang ia suka segera saja dilemparkan kepada pelayan wanita itu. Sekitar 20 menit, jumlah 32 baju serta dress dilempar asal-asalan dan juga 40  baju serta dress yang ia pilih.

Kai tersenyum melihat Fellia. Tampak seperti evil smirk dimata Fellia, menandakkan sesuatu yang buruk akan menimpa gadis itu. Tanpa kata, Kai segera mendorong Fellia masuk kedalam ruang ganti.

Fellia berbalik sebentar dengan mata berkilatan, aura kesal mengelilinginya. Namun pria itu melihat pelayan yang ada disitu dan dengan satu gerakan, semua orang itu pergi meninggalkan mereka berdua.

“Aku tau aku sekarang menjadi assistant-mu, tapi itu bukan berati kamu bisa menyuruhku seenaknya. Menggunakan ini, menggunakan itu.. Aku bukan boneka-mu TUAN MUDA!” teriak Fellia sambil menekankan kata TUAN MUDA lalu memalingkan wajahnya.

“Ya aku tau, maafkan aku telah kasar padamu. Tapi kamu harus menggunakan ini semua. Kalau kamu berpakaian biasa-biasa saja, kamu tidak akan dihargai nona.. Pecayalah padaku. Aku bukan mengatakan kamu jelek, bagiku kamu pun cantik dimataku dengan menggunakan apapun. Sekalipun tanpa baju-baju ini. Tapi tidak dengan orang lain. Mengertilah.” kata Kai lembut sambil mengelus-ngelus rambut Fellia, gadis itu hanya menoleh melihat Kai, masih dalam diam.

“Jadi kamu segera coba baju itu dan kita pulang. Beres kan? Besok segala sesuatunya akan dimulai.”

Fellia hanya menganguk lalu masuk kedalam ruang ganti sementara Kai duduk disofa yang ada. Mudah sekali membujuk gadis itu. Gadis itu cantik sekali, bukan? Bukan hanya luar, tapi juga dalam. Dia memang terlihat biasa bahkan aneh dengan pakaiannya itu tapi tidak ada yang bisa menyembunyikan pesona-nya dariku.

“Every girl is beautiful. Sometimes it just takes the right guy to see it.”

Lagipula ia berani sekali kepadaku, tipe gadis yang sangat aku suka. Penuh tantangan.

Kai masih asyik berpikir dan juga memuji Fellia dalam hati sementara Fellia berada di ruang ganti dan dengan tarikan napas panjang ia menggerutu melihat baju-baju itu. Baju-baju yang sangat tidak sesuai dengan standar-nya. Haruskah ia menggunakannya?

Tapi tak lama, diambil-nya juga sebuah dress dengan pita ditengah. Perpaduan warna pink dan juga putih, Fellia mematut diri di depan kaca. Ia sendiri tidak menyangka dirinya akan secantik itu ketika menggunakannya.

“Sudah?” teriak Kai dari luar membuat Fellia terperanjat, dengan takut-takut ia membuka pintu ruang ganti..

“Bagaimana?” ucap Fellia sambil menundukkan wajah-nya malu.

Tidak ada jawaban, Fellia mendongak dan melihat ke depan namun sama sekali tidak menyangka ternyata Kai sudah berdiri tepat didepannya. Tangan Kai menyentuh pipi-nya perlahan. Membuat jantung Fellia tiba-tiba berdetak dengan sangat cepat. Tak lama, tangan Kai merapikan anak-anak rambut yang berantakan dan merapikan poni Fellia dengan lembut dan seperti biasa tersenyum bahagia, “Kamu adalah wanita tercantik yang pernah ada.”

End of Author’s POV

 

**

 

Fellia’s POV

“Kamu adalah wanita tercantik yang pernah ada.”

Aku melongo kebingungan, apakah benar dia yang baru saja mengucapkan kalimat itu? Apakah majikanku yang satu ini begitu bodoh? Apa dia buta mendadak?  Bisa-bisanya dia mengatakan aku cantik?

“Bisakah kamu berhenti menjelekkan dirimu sendiri?”

“Apakah kamu bisa membaca pikiranku?” tanya Fellia ragu

“Tidak. Tentu saja tidak. Aku hanya bisa membaca air mukamu. Ekspresi-mu benar-benar mengekspresikan apa yang kau rasakan dan apa yang kau pikirkan.”

Apakah sebegitu jelasnya? Sampai ia tahu seluruh yang aku rasakan?

“Bisakah kamu jangan merasa malu, mukamu yang memerah itu membutku ingin mencubitmu.” gurau Kai sambil mengacak-ngacak rambutku pelan.

“Apa?” teriakku panik sambil menutup mukaku, aku berlari masuk ke dalam ruang ganti dan menutupnya cepat. Aku bersandar pada pintu. Masih berusaha menarik napas seolah mencari oksigen sebanyak-banyaknya. Apa kamu tahu? Aku rasa aku akan mati karena tiba-tiba saja otakku membeku dan tiba-tiba jantungku berdetak sangat kencang.

Apa yang terjadi padaku sebenarnya?

Aku masih mengacak-ngacak rambut frustasi sampai suara-nya terdengar lagi, “Nona, sampai kapan kamu akan membuatku menunggu diluar? Masih ada 39 baju lagi.”

“YAAAA AKU TAU!!!!” teriakku sebal lalu beranjak mengambil baju yang lain. Hari ini akan menjadi hari yang sangat panjang.

End of Fellia’s POV

 

**

 

Kai’s POV

Aku menepikan mobil-ku sebentar lalu menoleh kesamping. Gadis itu ketiduran. Bagaimana ini?

Aku masih asyik menatap wajahnya, dia pasti sangat kelelahan bukan? Mencoba 40 baju. Apa dia sudah gila? Sebenarnya percuma saja baju itu. Aku bisa bilang dia akan cantik menggunakan baju apa saja. Pasti dia sangat kelelahan.

Aku menoleh kebelakang lalu melihat tas belanjaan yang ada, dia pasti sangat sebal bolak-balik ganti baju. Apa boleh buat. Entah kenapa hari ini aku hanya tak ingin melihatnya sebentar, aku rasa aku ingin melihatnya seharian. Mungkin,  Selamanya?

Aku mengacak-ngacak rambut bingung, apakah ini yang dinamakan cinta? Kenapa aku tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya? Apa sih yang terjadi padaku? Sejak bertemu dengannya, rasanya sulit saja untuk mengalihkan pandanganku darinya.

Aku menghela napas lalu kemudian mengalihkan pemandanganku ke kaca depan, langit mulai gelap. Matahari mulai tenggelam, sekarang aku harus bagaimana? Aku kan tidak tahu harus membawa gadis ini kemana?

 

End of Kai’s POV

 

**

 

Author’s POV

-flashback-

 

Gadis kecil berlari-lari dengan langkah sebesar mengkin, dengan secepat mungkin mengejar mobil putih itu. Ia baru saja pulang dari suatu tempat sampai kemudian ia melihat sosok yang begitu ia rindukan. Tak lama mobil itu masuk ke suatu gerbang yang sangat tinggi, berwarna putih juga. Gadis kecil itu segera saja menyebrang. Kalau saja tidak ada sebuah mobil lain yang menabraknya itu, ia pasti masih sempat bertemu dengan ayahnya. Yang ia ingat hanya punggung kokoh itu menggendong seorang anak kecil yang lain dan masuk kedalam rumah itu, sebelum pagar itu ditutup. Sebelum maut hampir menjemputnya.

**

Kai sedang berjalan memilih dasi yang tertata rapi dalam sebuah rak kaca diruangan besar penuh dengan baju dan aksesoris dan perlengkapan berdandan lainnya. Ia mematut diri sendiri didepan kaca sambil menggunakan dasi itu dan kemudian menyambar sebuah jam tangan dari atas meja lalu kemudian berjalan masuk lagi ke kamar-nya. Baru saja ia tadi akan menggunakan seragam-nya, kalau saja bukan karena tiba-tiba ada rapat yang menyuruhnya datang kekantor pagi ini.

Saat ia berhasil menggunakan jam-nya ia menoleh kedepan dan mendapati tangan melambai-lambai diatas kasur. Seolah ingin menggapai sesuatu. Kai mempercepat langkahnya menuju kasur dan melihat seorang gadis yang sangat cantik tidur dengan ekspresi panik luar biasa. Kening-nya berkerut lalu kemudian duduk ditepi kasur itu, menunggu gadis itu bangun dengan sendirinya.

“APPA! APPA! APPA! LIHAT FELLIA PA!”

Kening Kai tambah berkerut lagi mendengar teriakan Fellia, teriakan itu semakin menjadi ketika Kai memutuskan untuk tetap diam.

“APPA! APPA MASA TIDAK MELIHAT FELLIA? PA LIHAT KEBELAKANG! LIHAT FELLIA APPA!!! JANGAN TINGGALIN FELLIA SENDIRIAN! ARRRRRRRRRRRRRRGGGGHHHHH”

Kai segera saja menarik tangan Fellia dan menarik gadis itu untuk masuk kedalam pelukannya, ada apa dengan gadis ini??

“Fellia. Ini aku Kai, tenang. Tenang ini aku.”

Fellia masih meronta-ronta dalam pelukan Kai, berteriak meminta tolong. Dengan napas tersenggal-senggalnya, ia terus meneteskan air mata yang tak henti-hentinya turun itu.

Kai mengelus-ngelus kepala Fellia, masih memeluknya, “Ini aku, Kai.. Kamu tidak sendirian. Ada aku.” kata Kai melembut. Perlahan Fellia tenang dalam pelukannya, air matanya mulai tak sederas tadi. Gadis itu menarik napas panjang lalu kemudian perlahan membuka matanya sendiri. Samar-samar ia melihat semua perabotan berwarna putih, masih mengerjap-ngerjapkan matanya tak yakin dengan penglihatannya. Pemandangan yang tidak biasa ia lihat pagi hari.

“Aku ada dimana?” ucap Fellia masih setengah sadar, Kai mendorongnya agak menjauh, menjauhkan gadis itu dari pelukannya. Gadis itu terlihat sangat terkejut melihat Kai sampai tak sanggup berkata-kata..

“Kamu. Kamu sedang apa disini?”

“Bukannya ini rumahku sendiri?” ucap Kai santai membuat Fellia semakin panik.

“Apa? Dirumahmu? Apa yang aku lakukan dirumahmu?”

“Kamu ketiduran di mobilku. Jadi kamu tertidur sampai pagi ini. Kamu bahkan tidak bisa bangun sama sekali.”

“Kamu tidak melakukan apa-apakan padaku?” teriaknya setengah histeris sambil takut-takut melihat Kai..

Kai berdiri lalu melihatnya tajam, “Yang benar saja. Saat aku membaringkanmu, kamu sudah menarikku dan memelukku seperti guling ternyaman didunia. Tak mau melepaskanku. Kamu pikir aku bisa berbuat apa?”

Fellia melongo saking tidak percayanya, tapi mau tidak mau ia sendiri malu. Pantas saja ia merasa sangat nyaman dan hangat sekali tadi malam.

Kai beranjak masuk kedalam ruang pakaian-nya lagi, “Kamu adalah wanita satu-satunya yang kubiarkan tidur diatas ranjangku, nona assistant. Kamu pasti senang sekali ya memiliki majikan sepertiku. Lihat saja, sudah seberapa baiknya aku. Kamu masih menyiksaku. Membuat bajuku kotor dengan air matamu.”

Fellia hanya bisa tersentak mendengar perkataan Kai namun tak urung ia tersenyum bahagia juga, “BANGUN! KITA ADA RAPAT PAGI INI!”

“Mwo?”

“Ada rapat nona…” kata Kai dari balik itu sambil mengancingkan kemeja putihnya itu, Fellia segera saja tersentak berdiri, “Buat apa kamu berbicara padaku sambil memakai baju? Majikan macam apa kamu itu?”

“Apa? Begini saja juga! Pikiranmu pasti aneh-aneh. Sana mandi, kamar mandi ada di arah sana.” teriak Kai sambil melempar baju tepat didepan wajah Fellia. Gadis itu segera saja berlari kearah kamar mandi sementara Kai tertawa puas berhasil mengerjai gadis itu.

 

End of Author’s POV

 

**

 

Kai’s POV

 

Rumah sepi sekali. Tentu saja, appa ada di Singapore untuk berobat dan eomma menemaninya. Aku menuruni tangga lalu kemudian melihat pigura besar itu. Aku, eomma dan appa. Keluarga yang bahagia sebenarnya. Sampai appa jatuh sakit-sakitan ini lah dan eomma memintaku untuk mencari adik tiriku. Eomma orang yang pengertian sekali, ia sama sekali tidak marah. Ia bahkan sangat mendukungku, mengatakan bahwa ia juga ingin memiliki anak perempuan.

Kalau eomma sudah meminta seperti itu, apa yang bisa aku lakukan? Pernikahan antara eomma dan appa juga sebenarnya karena perjodohan keluarga. Eomma ditinggal orang yang dicintainya karena meninggal sebelum melahirkan aku.  Kakek terpaksa mencari seorang pria keluarga yang setara untuk menikahinya. Untuk membantu eomma bertahan hidup, untuk melanjutkan perusahaan kakek.

Aku tidak pernah mengetahui ternyata kedua orangtuaku menyimpan rahasia yang begitu banyak dariku. Tapi aku tidak marah, setidaknya aku tau sebelum orang lain yang memberitahuku.

Sekilas aku melihat seluet tubuh gadis cantik duduk di atas tempat duduk berusaha dengan keras menggunakan sepatu high heels-nya. Aku tersenyum sebentar lalu mempercepat langkahku kearahnya.

“Yak.. Kamu itu yeoja bukan sih? Masa menggunakan high heels saja tidak pernah?”

“Aku tidak pernah menggunakan benda ini walaupun aku sering melihatnya.” ucapnya jujur sambil meringis membuatku tertawa tak tertahankan.

“Apa yang kamu tertawakan?” ujarnya sebal masih berusaha, tiba-tiba saja aku refleks untuk berlutut lalu tanganku mengambil alih high heelsnya dan dengan pelan memasangkannya di kaki gadis itu.

“Ini talinya di ikatkan dulu kesekeliling sini, baru setelah itu ini dimasukan kesini dan diikat dibuat simpul, setelah selesai kamu masukkan sisa talinya kesini. Mengerti?” tanyaku sambil mendongak kearahnya, dan.. tatapan kami bertemu sesaat. Tiba-tiba saja tubuhku seperti disengat sesuatu, membuatku tidak ingin mengalihkan pandanganku kemanapun, kecuali matanya.

Ia mengalihkan wajahnya membuatku juga melakukan hal yang sama, kemudian ia mengambil high heels yang satunya dan mencoba melakukan hal yang kuajarkan kepadanya.

Dia beteriak kegirangan dan loncat-loncat gembira melihat ia berhasil menggunakan high heels itu dengan baik, persis seperti anak kecil yang baru saja dibelikan sebuah lolipop sebesar kipas angin.

Aku hanya tersenyum, tapi tak lama ia sudah mulai terhuyung karena tak terbiasa menggunakan high heelsnya. Dengan sigap aku menangkap pinggang-nya, membuatnya jatuh kepelukanku. Aku mendiamkan diriku sebentar untuk membuatnya bisa mendapatkan kesadarannya kembali.

“Kamu itu parah sekali ya jadi yeoja.” ujarku tambah kesal saat ia terus diam, ia segera saja melepas pelukanku lalu berjalan menjauh.

“Mau kemana? Kalau kamu jatuh bagaima… YAKK!!!” teriakku saat melihatnya hampir terjatuh lagi dan lagi. Aku membantunya berdiri dengan baik dan kemudian menggandeng tangannya, “Berjalanlah sementara aku menggenggammu. Aku hanya tidak ingin terjadi apa-apa denganmu.”

“Tapi..”

“Tidak ada tapi-tapi-an.. Ayo, kita sudah tidak ada waktu lagi.” ucapku masih dengan penuh senyum, alangkah baiknya jika aku bisa menggenggam tangan gadis ini selamanya.

End of Kai’s POV

 

**

 

Author’s POV

 

Kai seperti biasa berhenti didepan lobby, ia cepat-cepat turun dari mobil dan mengitari mobilnya itu. Segera saja ia  membuka pintu seberang dan gadis cantik turun dari sana, ia menggandeng tangan gadis itu dan berjalan masuk. Disaat sudah menginjak pintu masuk, ia menoleh sebentar dan tidak lupa untuk melempar kunci mobilnya ke arah satpam vallet itu.

Kai berjalan dengan penuh percaya diri, sangat kontras dengan yeoja yang berjalan di sebelahnya. Yeoja itu menunduk terus mengikuti Kai. Sementara itu di setiap ruangan yang mereka lewati semua karyawan keluar dari dalam ruangan masing-masing hanya untuk melihat bos mereka dengan fenomena yang jarang terjadi. Tuan muda mereka, jarang sekali dengan terang-terangan menunjukkan sikapnya itu, apalagi dikantor.

Kai menekan lift dan segera saja naik kelantai yang dituju, sesampainya dilantai itu, matanya menangkap bayangan Baekhyun, Chanyeol, Kyungsoo sudah berdiri didepan pintu sambil berbicara.

Tiba-tiba saat Kyungsoo mengalihkan pandangannya, ia segera saja menarik-narik baju Chanyeol dan Baekhyun untuk melihat kearah dimana ia sedang lihat.

“Jong..in…?”

“Yooo.. Wassuupp?” kata Kai sambil melepaskan genggaman-nya dan berjalan, meng-high five 3 saudaranya.

“Kalian kenapa belum masuk?”

“Kita kan nunggu tuan muda pertama dulu untuk masuk.”

“Alasanmu aja…” balas Kai sambil mengacak-ngacak rambut Baekhyun.

Chanyeol mengalihkan pandangannya, melihat Fellia yang masih diam dan menundukkan kepalanya.

“Hey, dia siapa? Kok ga dikenalin ke kita? Pacar baru?” tanya Chanyeol bingung, Kai segera saja menjitaknya keras membuat Chanyeol meringis kesakitan.

“Dia bukan pacarku. Dia assistant pribadiku. Lagipula aku tidak pernah punya pacar. Mereka semua yang mengejarku dan aku tidak pernah mengikatkan diri dengan mereka.” balas Kai santai sambil berjalan ke arah Baekhyun.

“Assistant pribadimu? Wooahh.. hebat sekali ya tuan muda pertama kita ini..” kata Kyungsoo kagum sambil memukul pundak Chanyeol.

“YAK! Kenapa aku yang dipukul daritadi.”

“Sudah. Sudah. Ayo masuk.” kata Baekhyun cepat membuat ke 5 orang yang berada diluar itu sadar..

Kyungsoo sempat tersenyum melihat Kai yang masih diam ditempat bersama wanita itu, asing memang. Tapi aura gadis itu sangat menyenangkan. Dia sangat bisa merasakan bahwa sepupunya itu, Kai pasti jatuh cinta pada gadis itu. Benar saja kan? Belum satu menit, Kai sudah tersenyum lalu menggandeng wanita itu masuk. Dia kan tidak pernah seperti itu, selalu saja gadis-gadis yang mendekat padanya.. Selalu gadis-gadis yang mengejar, Kai hanya diam takut terlihat tidak sopan..

Didalam sana ada sebuah meja besar dan panjang berada ditengah-tengah ruangan. Sudah sekitar 10 orang dengan jas-jas hitam dan muka-muka tajam dan bisa dipercayai duduk diantara 20 kursi yang ada disitu. Kyungsoo, Chanyeol, Baekhyun sudah duduk dengan assistant masing-masing, sementara Kai duduk disebelah Fellia yang sudah siap dengan laptopnya.

Tiba-tiba saja ruangan jadi gelap dan seorang pria tua muncul didepan layar LCD membawa bolpen laser yang berfungsi untuk membantu presentasi.

“Hari ini kita akan membahas tentang perusahaan kita yang sedikit dalam masalah. Saya Thomas, selaku assistant dan tangan kanan dari Tuan Besar  yang sudah meninggal sejak 1 tahun yang lalu dan memberikan hartanya sama rata kepada masing-masing anak-nya. Sementara itu perusahaan inti ini tetap di pegang anak pertamanya, Tuan Dennys. Yaitu Papa dari TUAN MUDA PERTAMA, Tuan muda Kai. Karena beberapa hari ini Tuan besar Dennys sedang dalam keadaan yang cukup tidak baik dan sedang berobat sementara ke-2 anak lain dari TUAN BESAR masih sibuk mengurus perusahaan masing-masing. Karena itu perusahan inti ini akan dipegang sementara oleh Tuan Muda Kai.”

“MWO?” teriak Kai, Kyungsoo, Chanyeol dan juga Baekhyun bersamaan.

“TUAN MUDA, mohon perhatiannya… Tapi walaupun begitu masing-masing dari Tuan Muda akan cuti 2 minggu untuk mengurus anak perusahaan yang ada dalam masalah. Yaitu Tuan Muda Kai akan pergi ke Jepang, China dan Amerika. Sedangkan Tuan Muda Kyungsoo akan keliling Korea. Tuan muda Baekhyun dan Chanyeol akan pergi ke Roma untuk mengurus perusahaan disana.”

“YES LIBURAN!” teriak Baekhyun sambil high-five dengan Chanyeol, sementara itu Kakek Thomas berdeham dan melanjutkan, “Karena itu kalian para Tuan Muda harus berkonsentrasi.. Ini bukan sama sekali liburan. Ini adalah tugas. Sementara kalian dibantu juga assistant kalian, akan tetap ada satu atau 2 karyawan kepercayaan kami yang kan membantu kalian. Baiklah, sekian presentasi saya. Silahkan kembali keruangan masing-masing.” ucap Kakek Thomas dengan cepat, kakek Thomas adalah kaki tangan dan juga orang kepercayaan Kakek 4 butir ini. Dia dulu sahabat kakek mereka dan terus mengabdi sampai sekarang, katanya sumpah sampai mati akan mengabdi pada sahabatnya itu.

Semua orang berjas-jas hitam itu keluar, hanya menyisakan 4 butir didalamnya dan juga Fellia.

“YESS LIBURAN!” teriak Chanyeol mengikuti Baekhyun, Kai menjitak kepalanya.

“Liburan darimana? Kalian enak Cuma Roma, aku Jepang, China, Amerika.. Itu kan negara paling maju!”

Baekhyun hanya mengelus-ngelus kepala Kai, “Yang sabar ya. Kamu kan bisa sekalian menemui Luhan.. Ohya, assistant-mu nama-nya siapa?”

Kai melirik Fellia yang masih mengetik, “Namanya Fellia..”

“Oh, nama yang bagus..” kata Baekhyun sambil tersenyum membuat Fellia hanya bisa membalas senyumnya saja.

“Baiklah. Kita pergi dulu yaaa. Selamat sibuk kawan.” kata Kyungsoo sambil menepuk bahu Kai dan beranjak pergi..

“Kamu.. Akan menemaniku kan?” tanya Kai takut-takut..

Fellia hanya bisa menarik napas, “Apa boleh buat? Aku tidak ada pilihan lain kan? Aku akan minta izin ibuku.. Tapi apa kamu yakin ingin assistant seperti ku? Aku baru lulus SMP dan…”

“Aku tau kamu sangat hebat, lagipula aku benci orangtua.. Kenapa tidak kita tunjukkan saja walapun kita muda kita hebat..”

Fellia hanya menganguk-anguk, Kai memutar kursi putar itu membuat Fellia duduk tepat dihadapannya.. Membuat jantung keduanya berdetak sangat cepat, “Kamu.. kamu ga lapar?”

“Aku.. Aku..”

Kai akhirnya berdiri dan mengambil sebuah kotak, mengeluarkan sepatu flat yang sangat cantik, ia berlutut lagi kemudian setelah selesai melepas high heels bodoh itu ia memasangkan sepatu flat itu dikaki Fellia.

“Suka? Aku kasihan padamu, terlihat sangat menderita sekali..”

“Darimana sepatu ini?” tanya Fellia kebingungan..

“Aku memesannya tadi sesaat sebelum rapat.” jawab Kai sambil berdiri, tak lama seperti seolah terbiasa ia kembali menggenggam tangan Fellia membuat gadis itu dengan refleks berdiri.

“Ayo kita makan.. Makan ditempat kesukaanku.”

End of Author’s POV

 

TBC

 

**

 

THANKS FOR READING 😀 WE OPEN BAD AND GOOD COMMENTS, BUT STILL ! KEEP RESPECT 😀

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE ALL ABOUT EXO: @EXO1st

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE FANFICTION : @EXO1st_INA

ALSO RECEIVE PRIVATE EMAIL 😀 JUST SENT TO : ask.exo1st@yahoo.com

exofirstwonderplanet@yahoo.com

VISIT OUR WORDPRESS : exo1stwonderplanet.wordpress.com

ORIGINAL MADE BY @HJSOfficial @exo1st_INA , NO PLAGIRISM.

If you interest become official author or freelance author, please see https://exo1stwonderplanet.wordpress.com/ff-freelance/

Advertisements

Tagged: , ,

3 thoughts on “EXOtic’s FICTION “Sacrifice” – Part 1

  1. ardira larasati October 10, 2012 at 7:25 AM Reply

    Ya ampun serunya jd Fellia >.< Diladenin sama kai xD

  2. prenges June 18, 2013 at 3:58 AM Reply

    Kai,Fellia jatuh cinta pandangan pertama…..
    Aduhhhhhh Baekyeol, untung gak bikin ribut saat rapat tadi. Cara Kai pasang sepatu bisa bikin cewek jantungan

  3. Nurlaely D March 27, 2016 at 4:38 PM Reply

    Huaaaa kai lngsung agresf aja nich,, ntar jgn kget ya klo Fellia itu adik tirimu….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: