EXOtic’s FICTION “GUN SYNDROME” – Part 1

EXOtic’s Fiction

Exo1stwonderplanet.wordpress.com

“GUN SYNDROME”

Title: Gun Syndrome – Part 1

Cast:
Oh Sehun EXO-K, Kang Jae In (you), Chanyeol EXO-K.

Author: C. / @rollingkris

Genre: Action, Romance

Disclaim : SEMUA FANFICTION YANG DIPOST exo1stwonderplanet.wordpress.com adalah milik author yang menulis. DO NOT POST ANYWHERE WITHOUT ANY PERMISSION. And after read, please give comment^^ Every words from EXOWPers is A GOLD! *bow*

*

Part 1 – You and I.

“Kau tahu siapa aku, dan aku mengetahui dirimu dengan baik. Lagipula tidak ada lagi pria yang menguntungkan sepertiku. Jadi menikahlah denganku, dan tidak akan ada yang membunuhmu.”
Sehun memandang kedua matamu dengan tajam. Tangannya yang besar meremas bahumu, tapi kamu tidak merasakan sakit sama sekali. Kamu terlalu gugup berada sedekat ini dengan Sehun. Wajahmu memanas dan semburat merah mulai terlihat. Kamu sendiri tidak bisa berpikir jernih hingga akhirnya Sehun mengambil langkah nekat, ia menarik pinggangmu hingga kau jatuh ke pelukannya. Kamu belum sempat berkedip dan Sehun sudah menarik dagumu, mencium bibirmu dengan lembut.

Entah apa keputusanmu sekarang.

*

Author POV
Lokasi: ruang rapat pusat kepolisian Seoul.

Tiga orang pria bertubuh tegap berjalan memasuki ruang rapat. Ketiga pria itu bukan sembarang orang, mereka semua terdiri dari inspektur kepolisian, kepala polisi, dan detektif senior. Mereka mengunjungi salah seorang pria lain yang masih muda di dalam ruangan itu. Pria tampan yang kini sedang gugup memainkan kancing kemeja birunya, Oh Sehun.

“Hei detektif Oh. Kami datang untuk penyelidikan bukti-bukti yang telah kau temukan.” Sang kepala polisi Luhan, kakak laki-laki Sehun langsung bicara begitu ia melihat adiknya di dalam ruangan. Sehun pun segera bangkit dari bangkunya dan membungkuk pada tiga orang di depannya.

“A-aku.. ya.. aku sudah mengumpulkan bukti-buktinya..” Sehun tertawa garing pada orang-orang yang sedang berwajah serius. Sehun mati kutu. Well, sebenarnya ia tidak berhasil mengumpulkan banyak bukti dari kasus pembunuhan seorang mahasiswi di samping sebuah hotel dua hari yang lalu. Sehun hanya berhasil mendapatkan satu bukti, dan itu juga tidak terlalu kuat. Membuat Sehun menjadi sangat gugup.

“Bagus. Sekarang jabarkan pada kami.” Sang inspektur yang kini bicara, sementara kedua orang lainnya duduk di kursi yang sudah disediakan. Oh Sehun pun mengangguk, dengan tegang ia berjalan ke papan whiteboard yang biasa digunakan para detektif untuk menjelaskan suatu hal. Tangan Sehun yang berkeringat dingin kini menggenggam spidol merahnya kuat-kuat dengan tangan yang satunya lagi memegang kertas-kertas tipis yang adalah bahan presentasinya saat ini.

“Jadi.. aku.. aku berhasil mendapatkan informasi bahwa gadis yang dibunuh dua hari yang lalu.. tercatat telah meminum minuman keras dengan kadar tinggi. Lalu ia diculik oleh seorang pria dan akhirnya dibunuh setelah disetubuhi di hotel tersebut. Sang pria membuang jasadnya ke tempat sampah di samping hotel.”

“Ya ya ya, kami sudah tahu itu Sehun. Yang kami butuhkan sekarang adalah motif pelaku. Kau sudah menemukannya belum??” Luhan memandang tajam Sehun. Firasatnya sudah mengatakan kalau adik serampangannya ini tidak berhasil dalam kasusnya.

“A-aku… aku hanya mendapat kabar kalau sang pelaku adalah bartender di klab malam tempat gadis itu minum-minum…” Sehun menundukkan kepalanya ketakutan. Ia tahu kalau sebentar lagi salah satu dari tiga orang itu akan membentaknya. Hening sejenak dan Sehun sekarang sedang mengumpulkan nyawanya, kalau-kalau ia terbunuh setelah dibentak.

“Oh Sehun… detektif muda yang masuk ke distrik ini di umurnya yang ke 15. Adik bungsu tuan Luhan dan anak kebanggaan tuan So In. Trainee selama 3 tahun.. Ketertarikan pada.. SNSD dan Super Junior. Memiliki fobia terhadap senjata tajam..” inspektur yang duduk di sebelah Luhan membaca data diri Sehun. Kemudian pria itu menarik nafas panjang, diikuti Luhan.

“Bagus. Penjelasanmu sangat bagus.” Kini detektif senior Lee berdiri dari tempatnya. Ucapannya tentu saja mengangkat wajah Sehun. “.. Hh. Kau terlihat pintar Oh Sehun. Padahal sebenarnya kau.. bodoh!!” tiba-tiba sang detektif melempar kertas-kertasnya ke arah Sehun, membuat Sehun kaget hingga melangkah mundur ke belakang.

“KAMI SEMUA SUDAH MENDAPATKAN KABAR TENTANG PELAKU INI SEORANG BARTENDER! KAMI MAU KAU MENYELIDIKI MOTIFNYA! DAN DARI DUA HARI INI KAU HANYA BERHASIL MENDAPATKAN PEKERJAANNYA?! BERHENTILAH KAU BEKERJA UNTUK RAKYAT! DASAR TIDAK BERGUNA!” detektif itu langsung berjalan tegas keluar ruangan, diikuti oleh inspektur yang juga merasa kecewa pada Sehun.

Sehun menggigit bibirnya setelah dimarahi seperti itu, ia menahan dirinya supaya tidak pingsan. Ya, selain takut pada senjata, Sehun juga takut pada suara yang terlalu kencang. Tidak lain, karena trauma masa lalunya.

/Flashback/

“Sehun, ayo tembakkan pistolmu ke lingkaran merah yang di tengah itu. Mari lihat seberapa tajam matamu.” Ayah Sehun memandang putra bungsunya dengan bangga, ia tidak menyangka sekarang Sehun kecilnya sudah bisa memegang pistol. Luhan si sulung juga berdiri di samping ayahnya, memperhatikan Sehun dengan seksama.

Sehun sendiri, sebenarnya sekarang ia sedang gugup. Ia memang sudah latihan beberapa kali bersama Luhan, tapi ini adalah kali pertama Sehun menunjukkan skillnya di depan ayahnya. Jadi sekarang ia memegang pistolnya dengan grogi, bisa ia rasakan tangannya bergetar kuat. Tubuh kurus Sehun yang saat itu masih berusia 10 tahun tampak sangat rapuh. Tapi ia mengusahakan dirinya untuk kuat dan tangguh seperti kakaknya Luhan.

Sehun memicingkan matanya ke arah target yang berbentuk orang itu, lalu perlahan tapi pasti ia menarik pelatuknya dan..

Klik!

Hening. Tidak terdengar bunyi kencang tembakkan seperti biasa. Sehun tertegun. Tidak ada peluru yang meluncur dari pistolnya. Aneh sekali, pikir Sehun. Kemudian ia sibuk memeriksa pistolnya, ia yakin kalau tadi ia sudah mengisi pistol itu dengan peluru.

“Sehun? Ada apa?” ayahnya mulai khawatir. Tapi Sehun masih memeriksa pistolnya, ia mengarahkan ujung pistol itu ke wajahnya, ia berusaha mencari pelurunya.

“Sehun… ada apa dengan pistolmu hah?” kali ini Luhan yang mulai khawatir. Tapi Sehun mengangkat wajahnya dan mengatakan pada keluarganya itu, “ani.. aku tidak tahu.. tapi aku yakin sekali kalau tadi aku-“

KLIK! DAAAARR!!!

Bunyi memekakkan telinga membuat semua orang syok. Tidak ada yang menyangka kalau pistol itu akan menembak. Apalagi tadi pistol itu mengarah ke wajah Sehun, dan pelurunya… pelurunya terbang tepat ke samping wajah Sehun. Rambut cokelatnya terkikis dan sepertinya kepalanya tergores peluru tadi. Sehun lemas. Ia menjatuhkan pistol itu ke tanah dan perlahan-lahan air matanya turun. Darah juga mulai mengalir ke pipinya, bercampur dengan air mata dan dalam sekejap, semua itu berubah menjadi mimpi buruk yang selalu menghantuinya hingga sekarang.

/Flashback off/

Sehun merasakan jantungnya berdegup terlalu kencang sekarang. Kepalanya juga terasa sangat pening karena bentakkan orang-orang tadi. Ia hampir jatuh, tapi beruntung sebuah tangan-tangan kecil namun kuat memegang bahu Sehun. Tangan Luhan. Luhan segera memeluk Sehun ke dekapannya dan membiarkan adiknya itu menumpahkan segala kesedihannya. Sehun terisak kencang, dan ia menyusupkan wajahnya ke leher Luhan, tempat favoritnya. Ia mencari kehangatan kakaknya disitu dan Luhan hanya bisa mengelus punggung Sehun, menenangkannya.

“Kenapa kau tidak berhenti Sehun… Sudah cukup kau dihina seperti ini.. Duniamu bukan disini, Sehun..” ujar Luhan lembut dan Sehun masih terisak.

“Aniyo hyung.. Aku.. aku harus membuat appa bangga..” suara Sehun terdengar gemetar. Luhan tau adiknya itu selalu berusaha terlihat tegar.

“Kapan pun kau merasa tidak kuat, aku akan selalu ada di sampingmu oke?”

Sehun tersenyum di pelukkan Luhan dan layaknya anak kecil yang sedih, ia semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Luhan.

*

Jae In POV

“Lokasi apa yang akan kita serang selanjutnya?” lelaki muda di seberang meja besar ruang konfrensi itu memulai pembicaraan. Kamu mengenalnya, dia adalah Byun Baekhyun, agen mata-mata senior yang setara denganmu. Tapi kalau kau terfokus pada aksi, Baekhyun ini adalah otaknya. Kamu berdeham lalu mulai bicara pada 5 orang di ruangan itu.

“Gedung gubernur akan menjadi tempat yang sangat strategis untuk kita menundukkan pemerintahan.” Ujarmu tegas. Tapi Kai, si ahli senjata dan alat-alat peledak di sebelahmu menggeleng.

“Itu terlalu dekat dengan kantor polisi pusat. Kita tidak mau mengambil resiko kan?” kini Chanyeol kakak tirimu dan Tao si ahli bela diri mengangguk setuju. Tempat usulanmu terlalu berbahaya. Tapi Baekhyun sepertinya setuju denganmu, dia langsung memajukan kursinya begitu melihat Chanyeol dan Tao mengangguk.

“Aniyo. Jae In benar. Kantor gubernur sangat, sangat, sangat strategis. Jika peledakkan dilakukan dengan tepat dan efisien, maka kita tidak akan tertangkap. Polisi hanyalah rintangan kecil untuk kita. Kau ingat misi terdahulu kan? Meledakkan mobil walikota yang diparkir di kantor polisi? Itu sama mudahnya.” Jelas Baekhyun dan akhirnya semua orang di ruangan itu mulai setuju. Segera kelima front men dari the Black Beast, organisasi teroris yang melawan pemerintahan kotor itu mulai merencanakan misi mereka malam ini.

Jae In memandang Baekhyun dengan senang. Dan Baekhyun mengedipkan matanya pada Jae In sambil memberikan tawa tanpa suara beserta eye smilenya.  Baekhyun memang pria yang selalu berada di sisinya.

Sejak bertemu di umur mereka yang ke 10, Jae In dan Baekhyun tidak pernah terpisah. Mereka bersahabat dan bermain layaknya saudara sendiri. Bahkan Chanyeol juga tidak sedekat itu dengan Jae In. Jae In dan Baekhyun seakan memiliki magnet di dalam diri mereka, dan mereka saling menarik satu sama lain. Begitu terus hingga mereka akhirnya menjadi remaja, dan mereka merasakan ada yang berbeda di hati mereka. Memang tidak ada satupun dari mereka yang pernah menyatakan perasaan itu, tapi Baekhyun  dan Jae In tahu kalau mereka saling mencintai. Namun saat ini, satu-satunya gadis di antara lima pria itu tidak tahu, kalau dalam hitungan jam ia akan terpisah dengan Baekhyun dan bertemu dengan Oh Sehun.

***

Pukul 5 sore di gerbang samping kantor gubernur  Korea Selatan.

Lamborghini kuning terang berhenti di seberang gerbang tersebut. Para tentara bertubuh tegap mengawasi dengan seksama jalanan di sekitarnya. Tapi sepertinya mereka tidak menaruh curiga pada mobil itu, berhubung kantor gurbenur berada di kawasan perumahan elit sehingga mobil mewah sudah biasa lewat. Di kursi pengemudi, Jae In tersenyum puas. Misi ini akan berjalan dengan lancar, pikirnya.

Lalu ia melirik Baekhyun di sebelahnya yang sudah berpakaian necis dan tentu saja sangat tampan di mata Jae In. Baekhyun juga mengeluarkan seringai evilnya pada Jae In. Kemudian ia mengangguk, memberi sinyal pada Jae In kalau ini sudah saatnya ia keluar. Jae In membalas anggukannya, gadis cantik itu melepaskan kaca mata hitam dari hidungnya yang lancip. Lalu ia bercermin pada kaca spion, dijumpainya gadis yang seksi dan dewasa. Kostum Jae In kali ini hanya berupa mini dress ketat yang bertali tipis warna putih. Khas wanita-wanita gedongan. Rambut cokelat gelapnya ia gerai hingga ke bahu, dengan tambahan gelombang-gelombang alami rambutnya. Dan Jae In pun segera keluar dari mobil.

Mata para tentara langsung tertuju pada Jae In. Dalam hati mereka, mereka mengatakan “pasti gadis pesanan gubernur lagi”. Dan para tentara hanya bisa memutar bola matanya. Jae In dengan yakin berjalan mendekat ke gerbang tersebut dan ia menunjukkan kartu pass palsunya pada para tentara dan tanpa perlu diteliti lebih lanjut, tentara itu membiarkan Jae In masuk.

Gerbang terbuka lebar dan Jae In melemparkan senyum manisnya. Dalam hati ia sangat bahagia karena misi pertamanya telah berhasil. Ia segera melangkah masuk ke dalam dengan ringan. Melewati petugas informasi dan polisi dengan mudahnya, Jae In berjalan menuju toilet. Beruntung, toilet itu agak penuh, namun masih ada satu ruang kosong. Jae In masuk. Ia berniat membakar seluruh toilet itu.

*

Sehun POV

Pukul 4 sore di gedung kepolisian.

Sehun mematikan komputernya dengan frustasi. Lalu ia melemparkan bolpoinnya ke papan gabus di tembok kantornya, tepat ke foto seorang buronan. Pria itu benar-benar merasa stress berat karena kasusnya yang belum juga terpecahkan. Sehun pun memutuskan untuk pulang saja, mungkin menyegarkan diri dengan sedikit anggur di apartemennya. Lalu Sehun keluar dengan tas berisi map-map data tersangka dan berjalan lesu ke lift. Hingga ia mencuri dengar teman-teman polisinya di lantai itu sedang membicarakan tentang kasus besar. Sehun merapat ke dinding supaya lebih leluasa menguping.

“Kau tau kelompok teroris Black Beast?” polisi wanita memulai bicaranya. Dua polisi pria dan satu wanita lagi mengelilinginya.

“Tau. Mereka kelompok teroris yang ingin pemerintah kita turun kan?” si polisi pria menjawab.

“Tepat. Katanya kelompok itu dimiliki oleh seorang wanita ya?” kali ini polwan yang satu lagi yang menjawab dan sukses membuat ketiga polisi temannya membelalakkan matanya.

“Dan kau tau? Wanita itu sebenarnya masih berumur 18 tahun!”

“APA KATAMU?!”

Sehun sendiri juga tampak terkejut. Gadis seumuran dirinya sedang memerintah sebuah kelompok teroris yang begitu terkenal.. Siapa gadis itu?

“Coba saja cari di website FBI, katanya mereka punya daftar gadis-gadis yang menjadi tersangka sebagai ketua kelompok Black Beast itu!”

“Tapi ke website FBI Korea kan butuh password sendiri.. tidak mungkin kita bisa buka sembarangan..”

Sehun menegang, dia baru ingat kalau dia kan tahu passwordnya. Berhubung ayahnya adalah orang hebat dan kakaknya juga, Sehun ikut diberikan passwordnya supaya ia bisa mengetahui perkembangan kepolisian seluruh dunia. Tapi sayangnya karena bocah itu memang tidak ada niat untuk bekerja, dia tidak pernah tahu kalau password itu sebenarnya sangat penting. Sehun pun segera melesat ke ruang kerjanya lagi dan kembali menyalakan komputernya.

Ia kini begitu bersemangat, karena ia mengetahui satu hal: ayah dan kakaknya akan sangat bangga kalau Sehun berhasil memecahkan kasus yang bahkan tidak bisa dipecahkan oleh orang banyak. Di hati Sehun ia sangat yakin kalau kali ini ia akan berhasil, hanya tinggal mencari gadis itu dan ia akan segera menjadi pahlawan Korea Selatan.

Tidak berapa lama, Sehun berhasil mengakses website FBI Korea tersebut dengan password pemberian ayahnya yang ia simpan di handphonenya. Setelah sedikit mengutak-atik website tersebut, akhirnya ia bisa membaca artikel mengenai The Black Beast, dan daftar para tersangka ada disana. Sehun memperhatikan foto orang-orang tersebut, ada dua wanita dan 6 pria, yang status tersangkanya masih belum pasti. Namun karena Sehun tahu kalau yang paling dicari adalah si gadis, ia pun akhirnya memutuskan untuk mencetak hanya foto dua gadis tersebut. Di foto yang satu, tampak gadis dengan perawakan bengis. Dan tampak terlalu tua untuk menjadi gadis umur 18 tahun. Lalu di foto yang satunya lagi, inilah gadis yang berwajah semuda remaja umur 18 tahun. Sangat cantik dan mampu memikat siapa saja.

Semua orang pasti memilih gadis di foto yang pertama sebagai ketua kelompoknya, namun Kang Jae In yang benar adalah gadis yang di foto kedua. Tapi Sehun belum mengambil keputusan apa-apa, dia berpikir akan lebih mudah kalau hanya mencari orang-orang yang mirip gadis di dua foto itu.

*

Jae In POV
Pukul 5.15 sore.

Jae In menarik tissue toilet sebanyak mungkin hingga tangannya penuh dengan tissue yang sudah acak-acakkan. Lalu ia mengeluarkan lighter dari tas tangannya. Sesuai rencana, Jae In membakar ujung tissue itu dan ketika api mulai merambat di tissuenya, dengan gesit Jae In melempar tissue itu ke luar bangsal toiletnya. Dalam hitungan detik wanita-wanita di toilet itu langsung menjerit panik, keluar dari toilet. Beberapa masih di dalam, menyuruh temannya untuk cepat keluar karena ada kebakaran.

Jae In pun langsung keluar dari toilet, berakting seakan ia ikut panik. Lalu setelah ia melihat semua orang sudah keluar dari toilet, diam-diam ia mengambil botol parfumnya dan melemparnya ke dalam api yang masih menyala dan sudah hampir padam, segera ledakkan kecil terjadi. Jae In pun langsung pergi dari toiletnya.

Di luar, orang-orang sudah berlarian panik kesana-kemari, namun tujuan Jae In hanya satu, tombol emergency supaya semua orang di dalam gedung keluar. Jae In menemukan tombol tersebut di samping lift, ia dengan cepat menarik tuasnya dan alarm kebakaran langsung memekik kencang. Jae In berlari ke jendela untuk mengintip. Sesuai dugaannya, para karyawan sedang panik keluar dari gedung. Jalanan sangat ramai dipenuhi oleh orang-orang, tapi pemadam kebakaran belum sampai ke lokasi. Jae In menyeringai.

Tugasnya sudah selesai, tinggal Baekhyun yang harus berhasil menyusup melewati keramaian supaya tidak tertangkap polisi, lalu masuk ke dalam gedung dan mengaktifkan bom sementara Jae In harus secepat mungkin keluar dari gedung.

*

Sehun POV
Pukul 5 sore.

Sehun masuk ke dalam mobilnya yang ada di parkiran kantor polisi. Ia belum menyalakan mesinnya, ia malah melihat foto-foto yang ia cetak tadi, berusaha mengingat wajahnya supaya ia bisa mulai mencari hari ini juga. Lalu setelah Sehun merasa bosan, ia akhirnya menyalakan mesin mobilnya dan ia pun pulang ke apartemennya. Hingga matanya tertuju pada seorang gadis bergaya yang keluar dari Lamborghini-nya. Sehun mengerem mobilnya mendadak. Gadis itu begitu cantik, gadis tercantik yang pernah Sehun lihat.

Sehun terpana. Padahal ia tidak tahu kalau saat itu ia sedang melihat ke arah buronan yang ia butuhkan saat ini. Otaknya secara instan melupakan gambar-gambar muka di berkasnya. Fokusnya kini hanya tertuju pada gadis itu. Inikah.. cinta pada pandangan pertama?

Gadis itu masuk ke dalam gedung gubernur sementara Sehun memilih untuk menunggu gadis itu hingga ia keluar lagi. Entah kenapa Sehun menjadi tambah idiot setelah melihat Kang Jae In.

*

Tepat 25 menit kemudian, orang-orang berlarian keluar dari halaman gedung gubernur. Sehun melongo kaget. Apa yang terjadi? Batinnya. Pria itu segera melepaskan jas birunya lalu melemparnya ke jok sebelah. Ia keluar dari mobilnya, ingin tahu apa yang terjadi. Orang-orang yang keluar tersebut meneriakkan hal yang sama, kebakaran. Dan Sehun pun akhirnya tahu apa yang sedang terjadi. Lalu wajah Sehun tiba-tiba pucat. Gadis tadi.. Gadis cantik tadi kan ada di dalam gedung itu. Sehun langsung panik, ia mencari-cari sosok gadis tadi dimana-mana. Namun nihil, ia tidak menemukannya. Sementara jalanan semakin ramai karena para karyawan berbondong-bondong keluar ke jalan. Dan semua orang di situ berlarian panik hingga semakin sulit bagi Sehun untuk menemukan gadis tadi. Hingga akhirnya ia dengan nekat masuk ke dalam gedung.

Sehun menerobos barisan orang-orang tersebut, memperlama laju antrian keluar. Hingga akhirnya Sehun sampai di pintu masuk, dan ia melihat gadis itu. Gadis cantik dalam balutan gaun putih, ia sedang ikut mengantri keluar. Perasaan Sehun langsung lega, sementara ia dengan gesit menghampiri gadis itu dan menangkap tangannya. Gadis tersebut tampak syok, tapi Sehun tidak peduli. Ia harus cepat menyelamatkan belahan jiwanya. Ia terus menarik gadis itu keluar melewati rombongan karyawan.

*

Jae In POV
Pukul 5.25.

“Tidak. Antrian ini terlalu lama. Waktunya tidak akan cukup hingga bomnya meledak. Sial.” Jae In melirik ke belakang dengan khawatir, mencari-cari Baekhyun-nya. Ia kini sedang mengantri menuju pintu keluar bersama para karyawan lainnya. Dan antrian itu berjalan sangat pelan.

Jae In melihat ke arah jam tangannya, pukul 5.30. Baekhyun bilang kalau ia akan menyalakan bomnya tepat pukul 5.30, dan hanya diberikan waktu 30 detik. Kalau antriannya tidak kunjung jalan begini, tentu ia dan Baekhyun akan mati juga. Walaupun sebenarnya Jae In tidak masalah, asalkan ia bisa terus bersama Baekhyun, mati pun tidak apa-apa..

Jae In senewan lagi melihat ke jam tangannya, ia menghitung pula detiknya. Harusnya sekarang sudah tersisa 20 detik.. Terlalu cepat! Dan Jae In masih belum bisa melihat Baekhyun. 15 detik…

10 detik…

“JAE IN A!! AYO CEPAT KITA KELUAR!!!” tiba-tiba Baekhyun muncul dari balik dinding lobby dan Jae In pun langsung tersenyum lebar. Baekhyun ada disitu…, pria itu entah kenapa nyengir dengan sangat tampan hingga eye smilenya yang lucu terbentuk lagi. Oh, betapa Jae In ingin sekali berlari dan memeluk Baekhyun…

Grep!

Jae In syok berat saat seseorang menarik tubuhnya sebelum sempat melangkah maju. Jae In ditarik begitu kencang keluar dari gedung sementara Jae In yang syok masih belum punya kekuatan lebih untuk melawan seretan orang itu. Baekhyunnya, Baekhyunnya masih di dalam gedung dan kini semakin jauh di pandangan… Itu Baekhyunnya…

DUAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRR!!!!!

Jae In membuka lebar mata dan mulutnya melihat gedung itu meledak. Dan dalam kecepatan penuh api menjalar menghabisi gedung itu. Baekhyun…. Byun Baekhyun…

Air mata segera meluncur ke pipi Jae In. “ANDWAE!!!!!!”

Jae In jatuh ke tanah yang kotor oleh abu yang beterbangan. Bunyi sirene melengking terdengar dimana-mana, namun Jae In tidak peduli. Ia merasa sangat lemas.

“Hey kenapa begini, ayo kita pergi! Apinya kencang sekali!” pria yang tadi menarik Jae In berusaha mengangkat tubuh Jae In, namun jiwa membunuh Jae In bangkit. Gadis itu kini emosi, ia murka.

“Kau…” bibir Jae In bergetar.

“Kau yang menarikku pergi hah?” Jae In meraih pistol di pinggulnya. Pria itu langsung membeku melihat apa yang dipegang Jae In.

“K-kau.. siapa?” pria itu, Oh Sehun sekarang sangat tegang. Tapi Jae In tetap menarik pistolnya dan mengarahkannya ke wajah Sehun.

“Mati kau.”

**

TBC

THANKS FOR READING 😀 WE OPEN BAD AND GOOD COMMENTS, BUT STILL ! KEEP RESPECT 😀

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE ALL ABOUT EXO: @EXO1st

FOLLOW OUR TWITTER SPECIAL FOR UPDATE FANFICTION : @EXO1st_INA

ALSO RECEIVE PRIVATE EMAIL 😀 JUST SENT TO : ask.exo1st@yahoo.com

exofirstwonderplanet@yahoo.com

VISIT OUR WORDPRESS : exo1stwonderplanet.wordpress.com

ORIGINAL MADE BY @ROLLINGKRIS , NO PLAGIRISM.

If you interest become official author or freelance author, please see https://exo1stwonderplanet.wordpress.com/ff-freelance/

Advertisements

Tagged: , ,

One thought on “EXOtic’s FICTION “GUN SYNDROME” – Part 1

  1. Baekhyunnie~Bacon June 26, 2013 at 11:46 AM Reply

    thorrrrr…. ceritanya WANJEON DAEBAK….
    part selanjutnya kapan nih thorrr? Pengen tau apa si Bacon ku ^^ tetep hidup ato gmana….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: